Pernah denger sih kisah Aisyah
r.a yang difitnah selingkuh yang akhirnya Allah menurunkan wahyu secara tidak
tanggung-tanggung 8 ayat sekaligus untuk membersihkan beliau (Q.S An-Nur
11-18). Dan pas iseng-iseng baca kumpulan hadist Muslim buka Kitab Tobat,baca
perlahan dan sampailah mengenai berita bohong Ummul Mukminin Aisyah r.a binti
Abu Bakar Shidiq r.a. Jujur sama sekali tidak tau kalau kisah tersebut ada di
hadist karena selama ini aku kira itu hanyalah kisah teladan seperti Khulafaur
rasyidin. Berikut adalah isi hadist tersebut mengenai berita bohong.
*********************************************************************
Apabila Rasulullah saw. hendak keluar dalam
suatu perjalanan selalu mengadakan undian di antara para istri beliau dan siapa
di antara mereka yang keluar undiannya, maka Rasulullah saw. akan berangkat
bersamanya. Aisyah berkata : Lalu Rasulullah mengundi di antara kami untuk
menentukan siapa yang akan ikut dalam perang dan ternyata keluarlah undianku
sehingga aku pun berangkat bersama Rasulullah saw. Peristiwa itu terjadi
setelah diturunkan ayat hijab (Al-Ahzab ayat 53) di mana aku dibawa dalam
sekudup dan ditempatkan di sana selama perjalanan kami. Pada suatu malam ketika
Rasulullah saw. Selesai berperang lalu pulang dan kami telah mendekati Madinah,
beliau memberikan aba-aba untuk berangkat. Akupun segera bangkit setelah
mendengar mereka mengumumkan keberangkatan lalu berjalan sampai jauh
meninggalkan pasukan tentara. Seusai melaksanakan shalat hajat, aku hendak
langsung menghampiri unta tungganganku namun saat meraba dada, ternyata
kalungku yang terbuat dari mutiara Zifar putus. Aku pun kembali mencari kalungku
sehingga tertahan karena pencarian itu. Sementara orang-orang yang bertugas
membawaku mereka telah mengangkat sekedup itu dan meletakkannya ke atas
punggung untaku yang biasa aku tunggangi karena mereka mengira aku telah berada
di dalamnya. Ia menambahkan: Kaum wanita pada waktu itu memang bertubuh ringan
dan langsing tidak banyak ditutupi daging karena mereka mengkonsumsi makanan
dalam jumlah sedikit sehingga orang-orang itu tidak merasakan beratnya sekedup
ketika mereka mengangkatnya ke atas unta. Apalagi ketika itu aku anak perempuan
yang masih belia. Mereka pun segera menggerakan unta itu dan berangkat. Aku
baru menemukan kalung itu setelah pasukan berlalu. Kemudian aku mendatangi
tempat pemberhentian mereka, namun taka da seorang pun disana. Lalu aku menuju
ke tempat yang semula dengan harapan mereka akan merasa kehilangan dan kembali
menjemputku. Ketika aku sedang duduk di tempatku rasa kantuk mengalahkanku
sehingga aku pun tertidur. Ternyata ada Shafwan bin Muaththal As-Sulami
Az-Dzakwani yang tertinggal di belakang pasukan sehingga baru dapat berangkat pada
malam hari dan keesokan paginya ia sampai di tempatku. Dia melihat bayangan
hitam seperti seorang yang sedang tidur lalu ia mendatangi dan langsung
mengenali ketika melihatku karena ia pernah melihatku sebelum diwajibkan
berhijab. Aku terbangun oleh ucapannya, “Inna lillahi wa inna ilahi raji’uun”
pada saat dia mengenaliku. Aku segera menutupi wajahku dengan kerudung dan demi
Allah, dia sama sekali tidak mengajakku bicara sepatah kata pun dan aku pun
tidak mendengar satu kata pun darinya selain ucapan “inna lillahi wa inna
ilaihi raji’uun”. Kemudian ia menderumkan untanya dan memijak kakinya, sehingga
aku dapat menaikinya. Dan ia pun berangkat sambil menuntun unta yang aku
tunggangi hingga kami dapat menyusul pasukan yang sedang berteduh di tengah
hari yang sangat panas. Maka celakalah orang-orang yang telah menuduhku dimana
yang paling berperan ialah Abdullah bin Ubay bin Salul. Sampai kami tiba di
Madinah dan aku pun segera menderita sakit setiba di sana selama sebulan.
Sementara orang ramai membicarakan tuduhan para pembuat berita bohong padahal
aku sendiri tidak mengetahui sedikit pun tentang hal itu. Yang membuatku
gelisah selama sakit adalah bahwa aku tidak merasakan kelembutan Rasulullah saw.
Yang biasanya kurasakan ketika aku sakit. Rasulullah saw. Hanya masuk
menemuiku, mengucapkan salam, kemudian bertanya: Bagaimana keadaanmu?
Hal itu membuatku gelisah, tetapi aku tidak
merasakan adanya keburukan, sampai ketika aku keluar setelah sembuh bersama
Ummu Misthah ke tempat pembuangan air besar di mana kami hanya keluar ke sana
pada malam hari sebelum kami membangun tempat membuang kotoran (WC) di dekat
rumah-rumah kami. Kebiasaan kami sama seperti orang-orang Arab dulu dalam buang
air. Kami merasa terganggu dengan tempat-tempat itu bila di dekat rumah kami.
Aku pun berangkat dengan Ummu Misthah, seorang anak perempuan Abu Ruhum bin
Muthalib bin Abdi Manaf dan ibunya adalah putri Shakher bin Amir, bibi Abu
Bakar Sidik. Putranya bernama Misthah bin Utsatsah bin Abbad bin Muththalib. Aku
dan putri Abu Ruhum langsung menuju kea rah rumahku sesudah selesai buang air.
Tiba-tiba Ummu Misthah terpeleset dalam pakaian yang menutupi tubuhnya sehingga
terucaplah dari mulutnya kalimat: Celakalah Misthah! Aku berkata kepadanya:
Alangkah buruknya apa yang kau ucapkan! Apakah engkau memaki orang yang telah
ikut serta dalam perang Badar? Ummu Misthah berkata: Wahai junjunganku,
tidaklah engkau mendengar apa yang dia katakana? Aku menjawab: Memangnya apa
yang dia katakan? Ummu Misthah lalu menceritakan kepadaku tuduhan para pembuat
cerita bohong sehingga penyakitku semakin bertambah parah. Ketika aku kembali
ke rumah, Rasulullah saw. Masuk menemuiku, beliau mengucapkan salam kemudian
bertanya: Bagaimana keadaanmu? Aku berkata: Apakah engkau mengizinkan aku
mendatangi kedua orang tuaku? Pada saat itu aku ingin meyakinkan kabar itu dari
kedua orang tuaku. Begitu Rasulullah saw. Memberiku izin, aku pun segera pergi
ke rumah orang tuaku. Sesampai di sana, aku bertanya kepada ibu: Wahai ibuku,
apakah yang dikatakan oleh orang-orang mengenai diriku? Ibu menjawab: Wahai
anakku, tenanglah! Demi Allah, jarang sekali ada wanita cantik yang sangat
dicintai suaminya dan mempunyai beberapa madu, kecuali pasti banyak berita kotor
dilontarkan kepadanya. Aku berkata: Maha Suci Allah! Apakah setega itu
orang-orang membicarakanku? Aku menangis malam itu sampai pagi air mataku tidak
berhenti mengalir dan aku tidak dapat tidur dengan nyenyak. Pada pagi harinya, aku
masih saja menangis. Beberapa waktu kemudian Rasulullah saw. Memanggil Ali bin
Abu Thalib dan Usamah bin Zaid untuk membicarakan perceraian dengan istrinya
ketika wahyu tidak kunjung turun. Usamah bin Zaid memberikan pertimbangan
kepada Rasulullah saw. Sesuai dengan yang ia ketahui tentang kebersihan
istrinya (dari tuduhan) dan berdasarkan kecintaan dalam dirinya yang ia ketahui
terhadap keluarga Nabi saw. Ia berkata: Ya Rasulullah, mereka adalah keluargamu
dan kami tidak mengetahui dari mereka kecuali kebaikan. Sedangkan Ali bin Abu
Thalib berkata: Semoga Allah tidak menyesakkan hatimu karena perkara ini,
banyak wanita selain dia (Aisyah). Jika engkau bertanya kepada budak perempuan
itu (pembantu rumah tangga Aisyah) tentu dia akan memberimu keterangan yang
benar. Lalu Rasulullah saw. Memanggil Barirah (jariyah yang dimaksud) dan
bertanya: hai Barirah! Apakah engkau pernah melihat sesuatu yang membuatmu ragu
tentang Aisyah? Tidak ada perkara buruk yang aku lihat dari dirinya kecuali
Aisyah adalah seorang perempuan yang masih muda belia, yang biasa tidur di
samping adonan roti keluarga lalu dataanglah hewan-hewan ternak memakani adonan
itu. Kemudian Rasulullah saw. Berdiri diatas mimbar meminta bukti dari Abdullah
bin Ubay bin Salul. Di atas mimbar itu, Rasulullah saw bersabda: Wahai kaum
muslimin, siapakah yang mau menolongku dari seorang yang telah sampai hati
melukai keluarga? Demi Allah! Yang kuketahui pada keluargaku hanyalah kebaikan.
Orang-orang juga telah menyebut-nyebut seorang lelaki yang kuketahui baik. Dia
tidak pernah masuk menemui keluargaku (istriku) kecuali bersamaku. Maka
berdirilah Saad bin Muaz Al-Anshari seraya berkata: Aku akan menolongmu dari
orang itu, wahai Rasulullah. Jika dia dari golongan Aus, aku akan memenggal
lehernya dan kalau dia termasuk saudara kami dari golongan Khazraj, maka engkau
dapat memerintahkanku dan aku akan melaksanakan periintahmu. Mendengar itu,
berdirilah Saad bin Ubadah. Dia adalah pemimpin golongan Khazraj dan seorang
lelaki yang baik tapi amarahnya bangkit karena rasa fanatic golongan. Dia
berkata tertuju kepada Saad bin Muaz: Engkau salah! Demi Allah, engkau tidak
akan membunuhnya dan tidak akan mampu untuk membunuhnya! Lalu Usaid bin Hudhair
saudara sepupu Saad bin Muaz, berdiri dan berkata kepada Saad bin Ubadah:
Engkau salah! Demi Allah, kami pasti akan membunuhnya! Engkau adalah orang
muunafik yang berdebat untuk membela orang-orang munafik. Bangkitlah amarah
kedua golongan yaitu Aus dan Khazraj, sehingga mereka hampir saling
berbaku-hantam dan Rasulullah saw. Masih berdiri di atas mimbar terus berusaha
meredahkan emosi mereka hingga mereka diam dan Rasulullah saw. diam. Sementara
itu, aku menangis sepanjang hari, air mataku tidak berhenti mengalir dan aku
pun tidak merasa nyenyak dalam tidur. Aku masih saja menangis pada malam
berikutnya, air mataku tidak berhenti mengalir dan juga tidak merasa enak
tidur. Kedua orang tuaku mengira bahwa tangisku itu akan membelah jantungku.
Ketika kedua orang tuaku sedang duduk di sisiku yang masih menangis, datanglag
seorang perempuan Anshar meminta izin menemuiku. Aku memberinya izin lalu dia
pun duduk sambil menangis. Pada saat kami sedang dalam keadaan demikian, Rasulullah
saw. masuk. Beliau memberi salam, lalu duduk. Beliau belum pernah duduk di
dekatku sejak ada tuduhan yang bukan-bukan kepadaku, padahal sebulan telah
berlalu tanpa turun wahyu kepada beliau mengenai persoalanku. Rasulullah saw.
mengucap syahadat pada waktu duduk kemudian bersabda: Selanjutnya. Hai Aisyah,
sesungguhnya telah sampai kepadaku bermacam tuduhan tentang dirimu. Jika engkau
memang bersih, Allah pasti akan membesihkan dirimu dari tuduhan-tuduhan itu.
Tetapi kalau engkau memang telah berbuat dosa, maka mohonlah ampun kepada Allah
dan bertobatlah kepada_Nya. Sebab, bila seorang hamba mengakui dosanya kemudian
bertobat, tentu Allah akan menerima tobatnya. Ketika Rasulullah saw. selesai
berbicara, air mataku pun habis sehingga aku tidak merasakan satu tetespun
terjatuh. Lalu aku berkata kepada ayahku: Jawablah untukku kepada Rasulullah
saw. mengenai apa yang beliau katakan. Ayahku menyahut: Demi Allah, aku tidak
tahu apa yang harus aku katakana kepada Rasulullah saw. Kemudian aku berkata
kepada ibuku: Jawablah untukku kepada Rasulullah saw.! ibuku juga berkata: Demi
Allah, aku tidak tahu apa yang harus kukatakan kepada Rasulullah saw. Maka aku
pun berkata: Aku adalah seorang perempuan yang masih muda belia. Aku tidak
banyak membaca Alquran. Demi Allah, aku tahu kalian telah mendengar semua ini,
hingga masuk ke hati kalian, bahkan kalian mempercayainya. Jika aku katakan
kepada kalian, bahwa aku bersih dan Allah pun tahu aku bersih, mungkin kalian
tidak juga mempercayaiku. Dan jika aku mengakui hal itu dihadapan kalian,
sedangkan Allah mengetahui bahwa aku bersih, tentu kalian akan mempercayaiku.
Demi Allah, aku tidak menemui perumpamaan yang tepat bagiku dan bagi kalian,
kecuali sebagaimana dikatakan ayah Nabi Yusuf: Kesabaran yang baik itulah
kesabaranku. Dan Allah sajalah yang dimohon pertolongan-Nya terhadap apa yang
kalian ceritakan. Kemudian aku pindah dan berbaring di tempat tidurku. Demi
Allah, pada saat itu aku yakin diriku bersih dan Allah akan menunjukkan
kebersihanku. Tetapi, sumgguh aku tidak berharap akan diturunkan wahyu tentang
persoalanku. Aku kira persoalanku terlalu remeh unutk dibicarakan Allah Taala
dengan wahyu yang diturunkan. Namun, aku beharap Rasulullah saw. akan bermimpi
bahwa Allah membersihkan diriku dari fitnah itu. Rasulullah saw. belum lagi
meninggalkan tempat duduknya dan tak seorang pun dari isi rumah adda yang
keluar, ketika Allah Taala menurunkan wahyu kepada Nabi-Nya. Tampak Rasulullah
saw. merasa kepayahan seperti biasanya bila beliau menerima wahyu, hingga
bertetesan keringat beliau bagaikan mutiara di musim dingin, karena beratnya
firman yang diturunkan kepada beliau. Ketika keadaan yang demikian telah hilang
dari Rasulullah saw. (wahyu telah selesai turun), maka sambil tertawa perkataan
yang pertama kali beliau ucapkan adalah : Bergembiralah, wahai Aisyah, sesungguhnya
Allah telah membersihkan dirimu dari tuduhan. Lalu ibuku berkata kepadaku:
Bangunlah! Sambutlah beliau! Aku menjawab: Demi Allah, aku tidak bangun
menyambut beliau. Aku hanya akan memuji syukur kepada Allah. Dialah yang telah
menurunkan Ayat Al qur’an yang menyatakan kebersihanku. Allah Taala menurunkan
ayat: Sesungguhnya orang-orang yang membwa berita bohong itu adalah dari
golonganmu juga, dan sepuluh ayat berikutnya. Allah menurunkan ayat-ayat
tersebut yang menyatakan kebersihanku. Abu Bakar yang semula memberi nafkah
kepada Misthah karena kekerabatan dan kemiskinannya, pada saat itu mengatakan:
Demi Allah, aku tidak akan lagi memberi nafkah kepadanya sedikitpun selamanya,
sesudah apa yang dia katakana terhadap Aisyah. Sebagai teguran atas ucapan itu,
Allah menurunkan wahyu ayat selanjutnya ayat: Dan janganlah orang-orang yang
mempunyai kelebihan dan kelapangan di antara kalian, bersumpah bahwa mereka
tidak memberi bantuan kepada kaum kerabat mereka, orang-ornag miskin sampai
pada firman-Nya: Apakah kalian tidak ingin mengampuni kalian. (Hibban bin Musa
berkata : Abdullah bin Mubarak bekata : Ini adalah ayat yang paling aku
harapkan dalam Kitab Allah). Maka berkatalah Abu Bakar: Demi Allah, tentu saja
aku sangat menginginkan ampunan Allah. Selanjutnya dia (Abu Bakar) kembali
memberikan nafkah kepada Misthah seperti sediakala dan berkata : Aku tidak akan
berhenti membeikannya nafkah unutk selamanya. Aisyah meneruskan: Rasulullah
saw. pernah bertanya kepada Zainab binti
Jahsy, istri Nabi saw. tentang persoalanku: Apa yang kamu ketahui? Atau apa
pendapatmu? Zainab menjawab: Wahai Rasulullah, aku selalu menjaga pendengaran
dan penglihatanku (dari hal-hal yang tidak layak). Demi Allah, yang kuketahui
hanyalah kebaikan. Aisyah berkata: Padahal dialah yang menyaingi kecantikanku
dari antara para istri Nabi saw. Allah menganugerahinya dengan sikap warak (menjauhkan diri dari
masksiat dan perkara meragukan) lalu mulailah saudara perempuannya, yaitu
Hamnah binti Jahsy, membelanya dengan rasa fanatic (yakni ikut menyebarkan apa
yang dikatakan oleh pembuat cerita bohong). Maka celakalah ia bersama orang-orang
celaka.
(Shahih Muslim No.4974)