Senin, 18 April 2016

Asma' binti Abu Bakar r.a si Perempuan Pemilik dua Ikat Pinggang

Print Friendly and PDF
Hijrah adalah peristiwa penting dan penuh makna dalam sejarah Islam. Al-Bugha menyatakan bahwa dalam terminology syara’, hijrah adalah meninggalkan negeri kafir karena khawatir mendapat fitnah(gangguan) menuju Darul Islam (2011:40)
Allah SWT memerintahkan Rasulullah SAW untuk meninggalkan Makkah sebagai upaya menghindar dari cacian, makian, siksaan dan berbagai intimidasi lainnya yang dilakukan kaum kafir Quraisy terhadap Muslimin. Rasulullah menghadapi berbagai kesulitan dalam proses berpindah menuju Madinah tersebut, bahkan nyawa menjadi taruhannya. Selama perjalanan, Rasulullah harus melalui aral yang melintang sebagai pembuktian ketaqwaan dan tawakal sepenuhnya pada Rabb semesta alam. Pada akhirnya kepiawaian strategi Nabi Berpadu dengan takdir Allah.
Sejarah mencatat hijrah sebagai awal momentum kegemilangan kejayaan Islam. Siapakah ia? Ia adalah Asma’ binti Abu Bakar r.a. Ia seorang anak, istri, ibu sekaligus prajurit mulia. Asma’ dilahirkan tahun 27 sebelum Hijrah. Asma’ 10 tahun lebih tua daripada saudara seayah yaitu Ummul Mu’minin Aisyah r.a dan dia adalah saudara sekandung dari Abdullah bin Abu Bakar.

Keistimewaan Asma binti Abu Bakar r.a
Asma binti Abu Bakar r.a adalah shahabiyah yang terkenal keilmuan dan ketaqwaannya. Beliau termasuk golongan pertama yang masuk Islam. Ketika cahaya Islam menyinari jazirah Arab, Abu Bakar Ash-Shidiq r.a ayah Asma’ adalah laki-laki dewasa pertama yang memeluk Islam. Karena itu, tidak heran jika Asma’ memeluk agama tauhid ini sejak dini sehingga termasuk orang-orang yang pertama masuk Islam. “Jika dibuat nomor ururt daftar orang yang masuk Islam, maka Asma’ berada pada urutan ke-18. Artinya, hanya ada 17 orang lebih dulu masuk Islam darinya, baik laki-laki dan perempuan.”(Mahmud Al Mishri, 35 Sirah Shahabiyah, 2011:77)
Maka dari itu Asma’ juga dijanjikan masuk surga,
“Orang-orang yang terdahulu lagi yang pertama-tama(masuk islam) diantara orang-orang Muhajirin dan Anshar dan orang-orang yang mengikuti mereka dengan baik,Allah ridha kepada mereka dan mereka pun ridha kepada Allah dan Allah menyediakan bagi mereka surga-surga yang mengalir sungai-sungai di dalamnya…”(Q.S At Taubah : 100)
Bahkan Al Gadhan menyebutkan nama Asma’ khusus dalam satu bab yang membahas Peranan Wanita pada Periode Sirriyah (dakwah secara sembunyi-sembunyi) “…Kaum wanita ini hidup di periode Sirriyah tanpa diketahui oleh seorang pun keislaman mereka. Kita harus memberi perhatian kepada peranan kaum peempuan dalam perjalanan dakwah ini sebagaimana mestinya. Naik sebagai saudara, istri, maupun yang mendampingi kaum lelaki. Bahkan sebagian riwayat menyebutkan bahwa Asma’ r.s adalah seorang prajurit periode ini. Ini berarti bahwa dia dalam usianya yang sangat muda. (2009:26)
Ibnu Mulaikah dalam Al Mishri menyatakan, “Asma’ pernah merasa pusing, maka dia meletakkan tangan di atas kepala seraya berkata, “Ini karena dosaku, meskipun yang diampuni oleh Allah lebih banyak.” (2011:87).
Sebagai seorang istri, keshalihannya disebut langsung oleh sang suami tercinta. Al Mishri menyatakan bahwa suami Asma’, Zubair bin Awwam, pernah berkata, “Aku pernah masuk rumah dan mendapati Asma’ sedang shalat. Aku mendengar ia membaca ayat ‘Maka Allah memberikan karunia kepada kami dan memelihara kami dari azab neraka.’ Asma’ bermunajat dan memohon perlindungan kepada Allah. Maka aku berdiri, tapi karena ia bermunajat terlalu lama, aku oergi ke pasar. Saat aku kemabli, ternyata Asma’ masih menangis sambil bermunajat dan mohon perlindungan dari Allah.” (2011”85).

Asma’ binti Abu Bakar r.a berkata, ‘Ketika aku menikahi Zubair, dia belum mempunyai rumah, juga tidak mempunyai budak. Dia tidak mempunyai apa-apa di muka bumi ini selain kudanya. Akulah yang biasanya menggembalakan kudanya, memberinya makan, dan merawatnya. Selain itu aku juga menggiling bibit kurma, menggembalakan unta, memberinya minum, menambal ember, dan membuat roti. Sebenarnya aku tidak begitu pandai membuat roti, maka tetanggaku orang Anshar yang biasanya membuatkan roti untukku. Mereka adalah wanita-wanita yang ramah.’
Asma juga sering menjunjung bibit kurma di kepalanya dari hasil tanah milik Zubair yang telah dihadiahkan oleh Rasulullah SAW kepadanya. Tanah itu jauhnya sekitar 2mil. Suatu hari, Asma’ sedang membawa biji-biji kurma itu di atas kepalanya, ditengah perjalanan ia bertemu Rasulullah SAW dan sekelompok sahabat r.a. Lalu Beliau memanggil Asma’ ,’Ayo ikutlah!’ mengajaknya agar ikut di belakang beliau. Asma’ merasa malu sekali berjalan bersama para laki-laki. Dan ia teringat akan Zubair dan kecemburuannya. Karena Zubair termasuk orang yang paling pencemburu. Dan ketika Rasulullah SAW melihat Asma’ begitu malu, lalu beliau pergi. Setelah itu’ Asma’ menemui Zubair dan menceritakan kejadian tadi, ‘Tadi Rasulullah SAW bertemu denganku ketika aku sedang menjunjung biji kurma di kepalaku. Ada sekelompok sahabat bersama beliau. Beliau menundukkan untanya supaya aku bisa ikut menunggang unta itu bersama beliau, tetapi aku sangat malu dan aku tahu rasa cemburumu.’ Zubair berkata, “Demi Allah, memikirkanmu menjunjung menjunjung kurma adalah lebih berat daripada kamu berkendaraan bersama beliau.’

Pada suatu ketika Asma’ merasa Zubair berlaku keras terhadapnya, lalu Asma’ menemui ayahnya, Abu Bakar Ash-Shidiq r.a dan mengeluhkan tentangnya. Ayahnya berkata, ‘Putriku, sabarlah. Jika seorang wanita mempunyai suami yang shaleh dan dia meninggal, lalu wanita itu tidak menikah setelah itu, mereka akan dipersatukan kembali di surga.’
Asma’ binti Abu Bakar r.a pernah datang mendatangi Rasulullah SAW dan berkata, ‘Ya Nabi Allah! Tidak ada apa-apa di rumahku kecuali apa yang dibawakan Zuubair untukku. Salahkah bila aku menginfakkan sebagian dari yang dibawakannya itu?’ Beliau menjawab, infakkanlah yang kamu bisa. Jangan menimbun harta, atau Allah akan menahannya darimu.’ Kedermawanannya tidak diragukan lagi. Prinsip hidupnya adalah menyedekahkan apa yang ada, tanpa menyimpannya. Ia sangat meyakini, bahwa dengan memperbanyak sedekah akan menambah rezeki dan menyelesaikan masalah.
Peranan Asma’ sebagai Ibu yang merupakan menjadi teladan bagi anak-anaknya. Sunguh jarang sekali anak yang memuji akan orang tuanya, terlebih di saat sekarang karena mereka lebih sering menyukai sosok di luar rumah dan ini merupakan nasehat bagi kaum hawa juga agar bisa meneladani beliau sehingga anak-anak kita kelak tidak mencari sosok di luar sana untuk dikagumi.
Dari Abdullah bin Zubair r.a dia berkata : “Tidaklah kulihat dua orang wanita yang lebih dermawan daripada Aisyah dan Asma’,”Kedermawanan mereka berbeda. Adapun Aisyah, sesunggihnya dia suka mengumpulkan sesuatu, hingga setelah terkumpul padanya, dia pun membagikannya. Sedangkan Asma’, maka dia tidak menyimpan sesuatu untuk besoknya. Asma’ adalah seorang wanita yang dermawan dan pemurah.
Diriwayatkan bahwa Qutayrah binti Abdul Uzza, yaitu istri Abu Bakar r.a yang telah diceraikan pada zaman jahiliyah karena masih kufur mengunjungi putrinya Asma’ binti Abu Bakar r.a. Ia membawa kurma, mentega cair dan daun mimosa. Tetapi Asma menolak tidak mau menerima pemberiannya itu, bahkan Asma’ telah melarang ibunya iti memasuki rumahnya. Kemudian Asma’ menemui Aisyah r.a, “Tanyakanlah kepada Rasulullah SAW.” Beliau menjawab, ‘Sebaiknya kamu izinkan ibumu masuk dan menerima pemberiannya.” Kemudian Allah menurunkan wahyu-Nya,
“Allah tidak melarangmu untuk berbuat baik, dan berlaku adil terhadap  orang-orang yang tidak memerangimu karena agama dan tidak pula mengusirmu dari negerimu. Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang berlaku adil. Sesungguhnya Allah hanya melarangmu menjadikan sebagai kawanmu orang-orang yang memerangimu karena agama, dan mengusirmu dari negerimu, dan membantu orang lain dari mengusirmu. Dan barang siapa yang menjadikan mereka sebagai kawan, maka mereka itulah orang-orang yang zhalim.” (Al-Mumtahanah: 8-9).

Dzaatun Nithaaqain : Perempuan Pemilik Dua Ikat Pinggang
Aisyah r.a menceritakan bahwa ketika Rasulullah SAW mendapat izin untuk hijrah ke Madinah, beliau datang ke rumah Abu Bakar. Di rumah itu tidak ada siapapun kecuali Abu Bakar, Aisyah dan kakaknya yaitu Asma’ binti Abu Bakar r.a. rasulullah bersabda, “Suruh keluar dariku siapapun yang ada di rumahmu.” Abu Bakar berkata, “Wahai Rasulullah, yang ada hanya mereka berdua, putriku. Cuma itu, ayah dan ibuku sebagai tebusannya.” Maka beliau bersabda, “Sesungguhnya telah diizinkan untukku keluar dari Makkah dan berhijrah.” Abu Bakar bertanya, “Apakah aku mnyertaimu?”Rasulullah menjawab singkay. “Menyertai.” (Ali Muhammad Ash-Shalabi. Sejarah Lengkap Rasulullah. 2014 :432)
Tiada seorang pun  yang mengetahui keberangkatan Rasulullah SAW kecuali Ali bin Abi Thalib dan Abu Bakar beserta keluarganya.

Dapatkah kita bayangkan pada malam yang gelap dan sunyi, seorang perempuan yang tengah hamil besar membawa makanan dan menempuh jalan yang cukup tinggi uktuk mencapai Gua Tsur. Al Mishri menyebutkan bahwa selama tiga malam, Asma’ mengantarkan bekal untuk Nabi Muhammad Saw dan Abu Bakar r.a. karena tidak membawa sesuatu untuk mengikat wadah  makanan itu, Asma menyatakan bahwa hanya ada selendang di pinggangnya. Kemudian Abu Bakar menyuruhnya untuk membelah selendang tersebut menjadi dua. Asma’ pun mengikuti saran ayahnya. Ia mengikatkan makanan itu dengan selendangnya agar ayahnya dapat mengambilnya. Kemudian Rasulullah SAW mendo’akan Asma’ , “Semoga Allah menganti selendangmu dengan dua selendang di surge.” Sejak itu Asma’ dijuluki dzaatun nithaaqain (perempuan pemilik dua ikat pinggang) (2011:80)
Ibnu Ishaq dalam Al Mishri meriwayatkan, saat itu Abu Jahal datang ke rumah Abu Bakar r.a bersama para tokoh Quraisy, mereka menemui Asma’ dan bertanya di mana ayahnya. Ama’ pun menjawab tidak tahu dan seketika itu Abu Jahal menamparnya dengan keras sehingga antingnya lepas. Mereka sangat marah karena tidak mendapati Rasulullah SAW dan Abu Bakar r.a. (2011:81)
Asma’ selain perempuan yang baik dan pemberani namun beliau adalah wanita yang cerdas. Ketika kakeknya yang sudah buta berkata Abu Bakar r.a telah menyusahkan mereka karena tidak meninggalkan harta untuk mereka maka inilah tindakan dari Asma’ seperti pada Al Mishri yang menyebutkan bahwa Asma’ r.a menuturkan saat Rasulullah keluar dari Mekah, Abu Bakar membawa seluruh hartanya (Sekitar 5000 atau 6000 Dinar). Kemudian Asma’ mengambil batu-batu dan meletakannya di lubang angin, dimana ayahnya pernah meletakkan uang itu. Kemudian dia menutupinya dengan selembar baju. Setelah itu Asma’ memegang tangannya (Abu Quhafah) dan berkata: Letakkan tangan Anda diatas uang ini.” Maka kakeknya meletakan tangannya di atasnya dan berkata : “Tidaklah mengapa jika dia tingngalkan ini bagi kalian, maka dia (berarti) telah berbuat baik. Ini sudah cukup bagi kalian.”
Asma’ juga ikut dalam Perang Yarmuk seraya mendampingi suaminya. Kelebihan Asma’ yang sangat menonjol lainnya adalah bahasa yang fasih, cepat memahami sesuatu dan pandai berpuisi. Adz-Dzahabi dalam Al Mishri pun menambahkan, Asma’ adalah orang yang terakhir yang meninggal diantara golongan Muhajirin.” (2011 : 93)

Ketika sampai di Madinah Asma’ pun melahirkan putra pertamanya yaitu Abdullah dengan selamat baik ibu dan anaknya maka bersoraklah penduduk Madinah karena hal tersebut telah mematahkan  sihir manduk Yahudi yang ditujukan untuk kaum Muslimin dan diarak-arak bayi Abdullah keliling Madinah.


Pada masa pemerintahan Banu Umayyah, ketika Asma’ telah berusia 100 tahun dan matanya telah menjadi buta, datanglah Abdullah bin Zubair menemui ibunya Asma’. Abdullah berkata, “Wahai ibuku! Orang-orang telah mengecewakanku. Aku tidak mempunyai pendukung, kecuali beberapa orang saja.”
Asma’ : “Wahai anakku, engkau tentu lebih tahu tentang dirimu sendiri. Jika engkau yakin bahwa engkau diatas kebenaran dan kepada kebenaran engkau menyeru orang, maka teruskanlah! Sahabat-sahabatmu juga telah terbunuh di atas kebenaran ini. Jangan engkau jadikan batang lehermu dipermainkan oleh anak-anak Bani Umayyah. Tetapi jika engkau hanya menginginkan dunia semata, amka seburuk-buruk hamba adalah engaku!” Engkau telah membinasakan dirimu sendiri, dan engkau telah membinasakan orang-orang yang telah terbunuh bersama-samamu.

Dan jika engkau berada di atas kebenaran, lalu sahabat-sahabatmu menghaddapi kesulitan, apakah engkau akan menjadi lemah?! Demi Allah, ini bukanlah sikap orang-orang yang merdeka dan bukan pula sikap ahli agama. Berapa lama engkau akan tinggal di dunia ini? Mati adalah lebih baik!”
Mendengar nasehat dan dorongan dari Asma’ ibunya ini, maka Abdullah bin Zubair merasa tenang dan bersemangat. Kemudian Abdullah keluar dan bertempur hingga ia mati terbunuh. Konon, Al-Hajjaj bersumpah untuk tidak menurunkannya dari tiang kayu hingga ibunya meminta keringanan baginya. Maka tinggallah dia di situ selama satu tahun. Kemudian ibunya lewat di bawahnya dan berkata : "Tidakkah tiba waktunya bagi orang ini untuk turun ?"
Diriwayatkan, bahwa Al-Hajjaj berkata kepada Asma' setelah Abdullah terbunuh :"Bagaimanakah engkau lihat perbuatanku terhadap puteramu ?" Asma' menjawab :"Engkau telah merusak dunianya, namun dia telah merusak akhiratmu." Asma' wafat di Mekkah dalam usia 100 tahun, sedang giginya tetap utuh, tidak ada yang tanggal dan akalnya masih sempurna. [Mashaadirut Tarjamah : Thabaqaat Ibnu Saad, Taarikh Thabari, Al-Ishaabah dan Siirah Ibnu Hisyam]. Penulis buku, Musthafa Luthfi Al-Manfaluthi mencatat dialog yang terjadi antara Asma' dengan Abdullah, dalam sebuah kasidah yang dianggap sebuah karya seni yang indah.



Referensi :
“An-Nisaa’ Haula Ar-Rasull” (diterjemahkan menjadi “Tokoh-tokoh wanita di Sekitar Rasulullah SAW”) yang disusun oleh Muhammad Ibrahim Salim. Diketik oleh Hanies Ambarsari.
Oleh Nunu Karlina S.pd. Asisten Peneliti CGS dan Alumnus Akademi Siroh
Komentar Facebook
0 Komentar Blogger

Tidak ada komentar: