Jumat, 10 Juni 2016

Zahid r.a dan Zulfah binti Said

Print Friendly and PDF
Ketika bijak dalam memilih tontonan Isnya Allah ilmulah yang dapat kita pelajari bukan perasaan atau baper. Kisah-kisah teladan dan kisah inspiratif dalam Islam Itu Indah banyak membawa pelajaran bagi kita semua agar dapat menambah keimanan kita.

Pada zaman Rasulullah SAW hiduplah seorang pemuda yang bernama Zahid yang usianya 35 tahun namun belum juga menikah. Dia tinggal di Suffah masjid madinah. Ketika sedang memperkilat pedangnya tiba-tiba Rasulullah SAW datang dan mengucapkan salam. Zahid kaget dan menjawabnya agak gugup.
“Wahai saudaraku Zahid, selama ini engkau sendiri saja.” Rasulullah SAW menyapa.
“Allah bersamaku ya Rasulullah.” Kata Zahid
“Maksudnya,kenapa engkau belum menikah.”
Zahid menjawab,”Ya Rasulullah, aku ini seorang yang tidak mempunyai pekerjaan tetap dan wajahku jelek, siapa yang mau denganku ya Rasulullah?”
“Asal engkau mau, itu urusan yang mudah!” Kata Rasulullah
Kemudian Rasulullah SAW memerintah sekretarisnya untuk membuat surat yang isinya adalah melamar kepada wanita yang bernama Zulfah binti Said, anak seorang
Bangsawan Madinah yang terkenal kaya raya dan terkenal sangat cantik jelita. Akhirnya, surat itu dibawa ke rumah Zahid dan oleh Zahid dibawa ke rumah Said.
Karena di rumah Said sedang ada tamu, maka Zahid setelah memberikan salam kemudian memberikan surat tersebut dan diterima di depan rumah Said.
“Wahai saudaraku Said, aku membawa surat dari Rasul yang mulia diberikan untukmu saudaraku.”
Said menjawab, “Adalah suatu kehormatan buatku.”
Lalu surat itu dibuka dan dibacanya. Ketika membaca surat tersebut, Said agak terperanjat karena tradisi Arab perkawinan yang selama ini biasanya seorang bangsawan harus kawin dengan keturunan bangsawan dan yang kaya harus kawin dengan orang kaya.
Akhirnya Said bertanya kepada Zahid, “Wahai saudaraku, betulkah surat ini dari Rasulullah?”
Zahid menjawab,”Apakah engkau pernah melihat aku berbohong.”
Dalam suasana yang seperti itu Zulfah datang dan berkata,
“wahai ayah, kenapa sedikit tegang terhadap tamu ini. Bukankah lebih baik disuruh masuk?”
“Wahai anakku, ini adalah seorang pemuda yang sedang melamar engkau supaya engkau menjadi istrinya.” Kata ayahnya.
Disaat itulah Zulfah melihat Zahid sambil menangis sejadi-jadinya dan berkata,
“Wahai ayah, banyak pemuda yan tampan dan kaya raya semuanya menginginkan aku, aku tak mau ayah…!” dan Zulfah merasa dirinya terhina.
Maka Said berkata kepada Zahid, “Wahai saudaraku, engkau tahu sendiri anakku tidak mau, bukan aku menghalanginya dan sampaikanlah kepada Rasulullah bahwa lamaranmu ditolak.”
“Wahai ayah, mengapa membawa-bawa nama Rasul?”
 Akhirnya Said berkata, “Ini yang melamarmu adalah perintah Rasulullah.”
Maka Zulfah istighfar beberapa kali dan menyesal atas kelancangan perbuatannya itu dan berkata kepada ayahnya,
“Wahai ayah, kenapa sejak tadi ayah tidak berkata bahwa yang melamar ini Rasulullah, kalau begitu segera aku harus dikawinkan dengan pemuda ini.”
Karena ingat firman Allah dalam Al-Quran
“Sesungguhnya jawaban orang-orang mukmin, bila mereka dipanggil kepada Allah dan Rasul-Nya agar rasul menghukum (mengadili) diantara mereka ialah ucapan. Kami mendengar, dan kami patuh/taat. Dan mereka itulah orang-orang yang beruntung.” (Q.S 24:21)
Zahid pada rasa itu merasakan bahagia segera pamit pulang. Sampai di masjid ia bersujud syukur. Rasul yang mulia tersenyum melihat gerak-gerik Zahid yang berbeda dari biasanya.
“Bagaimana Zahid?”
“Alhamdulillah diterima ya Rasul.” Jawab Zahid
“Sudah ada persiapan?”
Zahid menundukkan kepala sambil berkata,
“Ya Rasul, kami tidak memiliki apa-apa.”
Akhirnya Rasulullah menyuruhnya pergi ke Abu Bakar, Utsman dan Abdurrahman bin Auf. Setelah mendapatkan uang yang cukup banyank, Zahid pergi ke pasar untuk membeli persiapan perkawinan. Dalam kondisi itulah Rasulullah SAW menyerukan umat islam unutk menghadapi orang kafir yang akan menghancurkan islam.
Ketika Zahid sampai di masjid, dia melihat kaum Muslimin sudah bersiap-siap dengan perlengkapan senjata, Zahid bertanya,”Ada apa ini?”
Sahabat menjawab,”Wahai Zahid, hari ini orang kafir akan menghancurkan kita, maka apakah engkau tidak mengerti?”
Zahid istighfar beberapa kali sambil berkata.
“Wah kalau begitu perlengkapan kawin ini akan aku jual dan kubelikan kuda yang terbagus.”
Para sahabat menasehatinya, “wahai Zahid, nanti malam kamu berbulan madu, tetapi engkau hendak berperang?”
Zahid menjawab dengan tegas,”Itu tidak mungkin!”
Lalu Zahid menyitir ayat sebagai berikut, “Jika bapak-bapak, anak-anak, saudara-saudara, istri-istri kaum keluargamu, harta kekayaan yang kamu usahakan, perniagaan yang kamu khawatiri kerugiannya dan rumah-rumah tempat tinggal yang kamu sukai, adalah lebih baik kamu cintai dairpada Allah dan Rasul-Nya (dari) berhijad di jalan-Nya. Maka tunggulah sampai Allah mendatangkan keputusan-Nya. Dan Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang fasik.” (Q.S 9:24)
Akhirnya Zahid maju ke medan pertempuran dan mati syahid di jalan Allah.
Rasulullah berkata, “Hari ini Zahid sedang berbulan madu dengan bidadari yang lebih cantik daripada Zulfah.”
Lalu Rasulullah membacakan Al-Quran surat 3:169-170 dan 2:154
 “Janganlah kamu mengira bahwa orang-orang yang gugur di jalan Allah itu mati, bahkan mereka itu hidup di sisi Tuhannya dengan mendapat rizki. Mereka dalam keadaan gembira disebabkan karunia Allah yang diberikan-Nya kepada mereka, dan mereka bergirang hati terhadap orang-orang yang masih tinggal dibelakang yang belum menyusul mereka dan tidak (pula) mereka bersedih hati.”(Q.S 3:169-170).
“Dan janganlah kamu mengatakan terhadap orang-orang yang gugur di jalan Allah, (bahwa mereka itu) mati, bahkan (sebenarnya) mereka itu hidup, tetapi kamu tidak menyadarinya.” (Q.S 2:154).

Pada saat itulah para sahabat meneteskan air mata dan Zulfah pun berkata, Ya Allah, alangkah bahagianya calon suamiku itu, jika aku tidak bisa mendampinginya di dunia izinkanlah aku mendampinginya di akhirat.”
Komentar Facebook
0 Komentar Blogger

Tidak ada komentar: