Di zaman sekarang tidak
sedikit perempuan yang meminta mahar cukup fantatis terhadap calon suaminya
terutama dikalangan selebritis sehingga terkesan mahar menjadi prestis dalam
kehidupan sosial, maka tidak jarang banyak yang berhutang. Bukankah sebaik-baik
perempuan adalah yang meringankan maharnya agar tidak mempersulit calon
suaminya itu untuk segera menikahinya.
“Diantara kebaikan wanita
ialah memudahkan maharnya dan memudahkan rahimnya.” (H.R Ahmad no. 23957)
Ketika di zaman Rasulullah SAW salah
satu shahabiyah Rasulullah SAW meminta mahar dengan keislamanya, ya beliau
adalah Ummu Sulaim. Mahar keislaman yang berbuah ‘emas’.
“Pernikahan yang paling
besar keberkahannya ialah yang paling mudah maharnya.” (H.R Ahmad no. 24595)
Ummu Sulaim telah memeluk
Islam, ketika Abu Thalhah, salah seorang pemuka Madinah yang saat itu masih
musyrik, melamarnya. Perempuan yang memiliki nama asli Rumaisha binti Milhan
adalah seorang janda dari pernikahannya pada masa jahiliyah dengan Malik bin
Nadhar. Dari hasil pernikahannya dengan suami yang pertama ini, Ummu Sulaim
memiliki anak yang patut dibanggakan bernama Anas bin Malik r.a, salah satu
sahabat kenamaan yang banyak sekali meriwayatkan hadist.
Suatu ketika Abu Thalhah datang
untuk melamar Ummu Sulaim. Seperti yang diketahui saat itu Abu Thalhah belum
memeluk Islam. Oleh sebab itu, Ummu Sulaim menawarkan mahar yang cukup unik
yaitu meminta Abu Thalhah masuk Islam sebagai maharnya.
“Wahai Abu Thalhah, demi
Allah tidak ada wanita yang akan menolak lamaran orang sepertimu. Tetapi aku
seorang wanita muslimah dan engkau seorang yang kafir, karenanya aku tidak
dibenarkan menikah denganmu. Jika engkau mau, masuklah kamu ke dalam agama
Islam, itulah mahar yang kuminta dan aku tidak akan meminta mahar yang lainnya
lagi.” Ucap Ummu Sulaim
Abu Thalhah menyetujui
permintaan Ummu Sulaim untuk memeluk Islam. Abu Thalhah akhirnya memberikan
mahar ke-Islamannya kepada Ummu Sulaim. Anas bin Malik r.a sepakat dengan mahar
tersebut.
“hai Anas, nikahkanlah
ibumu ini dengan Abu Thalhah.” Pinta Ummu Sulaim ke Anas bin Malik r.a
Mendengar kabar berita
pernikahan Ummu Sulaim dengan Abu Thalhah tersebut
Seorang sahabat bernama
Tsabit berkata, “Aku tidak pernah mendengar seorang perempuan yang mahar
pernikahannya lebih utama daripada maharnya Ummu Sulaim.”
Dari pernikahannya dengan
Abu Thalhah, lahirlah seorang anak bernama Abu Umair. Nabi Muhammad Saw sering
bercanda dengan Abu Umair ketika berkunjung ke rumah Abu Thalhah.
Suatu ketika Abu Umair
menderita sakit yang cukup parah. Pada saat yang sama Abu Thalhah sedang
bepergian ke luar dalam waktu yang agak lama. Tiba-tiba, tidak lama setelah itu
anaknya, Abu Umair meninggal dunia.
Hari itu Abu Thalhah
sedang berpuasa sunnah, sebagaimana biasanya Ummu Sulaim pun menyiapkan makanan
bagi suaminya unutk berbuka dan ia juga berhias serta memakai wangi-wangian
untuk menyambut suaminya pulang ke rumah. Abu Thalhah pun pulang dan berbuka
dengan makanan yang telah disiapkan istrinya. Ia pun bertanya tentang keadaan
anaknya yang sakit dan Ummu Sulaim menjawab, “Alhamdulillah, dia dalam keadaan
yang baik-baik saja. Engkau tidak perlu memikirkan keadaannya lagi.”
Abu Thalhah merasa tenang
dan meneruskan makannya. Malam itu juga menggauli istrinya kemudian tertidur.
Ketika bangun pagi harinya, Ummu Sulaim yang sudah bangun terlebih dahulu
berusaha memberi kabar mengenai anaknya Abu Umair yang sudah meninggal. Ia
bertanya, “Wahai suamiku, seandainya seseorang diberi suatu amanah, kemudian
pemiliknya mengambilnya kembali, haruskan ia mengembalikannya kembali?”
“Tentu.” Kata Abu Thalhah.
“Dia harus mengembalikannya, ia tidak punya hak untuk menyimpannya!”
“Suamiku , allah telah
mengamanatkan Abu Umair kepada kita, namun kini Dia telah memangilnya kembali
kemarin.” Tutur Ummu Sulaim
Mendengar penuturan ini
Abu Thalhah sedih bahkan sedikit marah. Ia menyesali kenapa Ummu Sulaim tidak
memberitahukannya semalam. Ia menemui Nabi Muhammad SAW dan mengadukan apa yang
dilakukan istrinya. Ternyata Rasulullah memuji kesabaran dan apa yang dilakukan
Ummu Sulaim tersebut, beliau juga mendo’akan, “Semoga Allah SWT memberkati
hubunganmu tadi malam dengan istrimu.”
Do’a ini menjadi kenyataan
karena tidak berapa lama Ummu Sulaim hamil dan melahirkan seorang anak yang
diberi nama Abdullah bin Abu Thalhah. Abdullah dikaruniai sembilan anak yang
semuanya hafal Al Qur’an (hafidz) dan jadi ulama.
Ummu Sulaim patut menjadi
teladan istri yang shalihah karena ia menikah dengan Abu Thalhah dengan niat
dakwah dan tidak ada niat yang lainnya. Buktinya ia hanya meminta mahar
keislaman Abu Thalhah. Ketika menjadi istri Abu Thalhah pun ia tidak arogan
karena sang suami seorang mualaf. Justru ia memberi teladan bagaimana menjadi
istri yang baik.