Selasa, 14 Juni 2016

Ummu Sulaim dan Abu Thalhah

Print Friendly and PDF
Di zaman sekarang tidak sedikit perempuan yang meminta mahar cukup fantatis terhadap calon suaminya terutama dikalangan selebritis sehingga terkesan mahar menjadi prestis dalam kehidupan sosial, maka tidak jarang banyak yang berhutang. Bukankah sebaik-baik perempuan adalah yang meringankan maharnya agar tidak mempersulit calon suaminya itu untuk segera menikahinya.
“Diantara kebaikan wanita ialah memudahkan maharnya dan memudahkan rahimnya.” (H.R  Ahmad no. 23957)
Ketika di zaman Rasulullah SAW salah satu shahabiyah Rasulullah SAW meminta mahar dengan keislamanya, ya beliau adalah Ummu Sulaim. Mahar keislaman yang berbuah ‘emas’.
“Pernikahan yang paling besar keberkahannya ialah yang paling mudah maharnya.” (H.R Ahmad no. 24595)

Ummu Sulaim telah memeluk Islam, ketika Abu Thalhah, salah seorang pemuka Madinah yang saat itu masih musyrik, melamarnya. Perempuan yang memiliki nama asli Rumaisha binti Milhan adalah seorang janda dari pernikahannya pada masa jahiliyah dengan Malik bin Nadhar. Dari hasil pernikahannya dengan suami yang pertama ini, Ummu Sulaim memiliki anak yang patut dibanggakan bernama Anas bin Malik r.a, salah satu sahabat kenamaan yang banyak sekali meriwayatkan hadist.
Suatu ketika Abu Thalhah datang untuk melamar Ummu Sulaim. Seperti yang diketahui saat itu Abu Thalhah belum memeluk Islam. Oleh sebab itu, Ummu Sulaim menawarkan mahar yang cukup unik yaitu meminta Abu Thalhah masuk Islam sebagai maharnya.
“Wahai Abu Thalhah, demi Allah tidak ada wanita yang akan menolak lamaran orang sepertimu. Tetapi aku seorang wanita muslimah dan engkau seorang yang kafir, karenanya aku tidak dibenarkan menikah denganmu. Jika engkau mau, masuklah kamu ke dalam agama Islam, itulah mahar yang kuminta dan aku tidak akan meminta mahar yang lainnya lagi.” Ucap Ummu Sulaim
Abu Thalhah menyetujui permintaan Ummu Sulaim untuk memeluk Islam. Abu Thalhah akhirnya memberikan mahar ke-Islamannya kepada Ummu Sulaim. Anas bin Malik r.a sepakat dengan mahar tersebut.
“hai Anas, nikahkanlah ibumu ini dengan Abu Thalhah.” Pinta Ummu Sulaim ke Anas bin Malik r.a
Mendengar kabar berita pernikahan Ummu Sulaim dengan Abu Thalhah tersebut
Seorang sahabat bernama Tsabit berkata, “Aku tidak pernah mendengar seorang perempuan yang mahar pernikahannya lebih utama daripada maharnya Ummu Sulaim.”
Dari pernikahannya dengan Abu Thalhah, lahirlah seorang anak bernama Abu Umair. Nabi Muhammad Saw sering bercanda dengan Abu Umair ketika berkunjung ke rumah Abu Thalhah.
Suatu ketika Abu Umair menderita sakit yang cukup parah. Pada saat yang sama Abu Thalhah sedang bepergian ke luar dalam waktu yang agak lama. Tiba-tiba, tidak lama setelah itu anaknya, Abu Umair meninggal dunia.
Hari itu Abu Thalhah sedang berpuasa sunnah, sebagaimana biasanya Ummu Sulaim pun menyiapkan makanan bagi suaminya unutk berbuka dan ia juga berhias serta memakai wangi-wangian untuk menyambut suaminya pulang ke rumah. Abu Thalhah pun pulang dan berbuka dengan makanan yang telah disiapkan istrinya. Ia pun bertanya tentang keadaan anaknya yang sakit dan Ummu Sulaim menjawab, “Alhamdulillah, dia dalam keadaan yang baik-baik saja. Engkau tidak perlu memikirkan keadaannya lagi.”
Abu Thalhah merasa tenang dan meneruskan makannya. Malam itu juga menggauli istrinya kemudian tertidur. Ketika bangun pagi harinya, Ummu Sulaim yang sudah bangun terlebih dahulu berusaha memberi kabar mengenai anaknya Abu Umair yang sudah meninggal. Ia bertanya, “Wahai suamiku, seandainya seseorang diberi suatu amanah, kemudian pemiliknya mengambilnya kembali, haruskan ia mengembalikannya kembali?”
“Tentu.” Kata Abu Thalhah. “Dia harus mengembalikannya, ia tidak punya hak untuk menyimpannya!”
“Suamiku , allah telah mengamanatkan Abu Umair kepada kita, namun kini Dia telah memangilnya kembali kemarin.” Tutur Ummu Sulaim
Mendengar penuturan ini Abu Thalhah sedih bahkan sedikit marah. Ia menyesali kenapa Ummu Sulaim tidak memberitahukannya semalam. Ia menemui Nabi Muhammad SAW dan mengadukan apa yang dilakukan istrinya. Ternyata Rasulullah memuji kesabaran dan apa yang dilakukan Ummu Sulaim tersebut, beliau juga mendo’akan, “Semoga Allah SWT memberkati hubunganmu tadi malam dengan istrimu.”
Do’a ini menjadi kenyataan karena tidak berapa lama Ummu Sulaim hamil dan melahirkan seorang anak yang diberi nama Abdullah bin Abu Thalhah. Abdullah dikaruniai sembilan anak yang semuanya hafal Al Qur’an (hafidz) dan jadi ulama.

Ummu Sulaim patut menjadi teladan istri yang shalihah karena ia menikah dengan Abu Thalhah dengan niat dakwah dan tidak ada niat yang lainnya. Buktinya ia hanya meminta mahar keislaman Abu Thalhah. Ketika menjadi istri Abu Thalhah pun ia tidak arogan karena sang suami seorang mualaf. Justru ia memberi teladan bagaimana menjadi istri yang baik.
Komentar Facebook
0 Komentar Blogger

Tidak ada komentar: