Senin, 13 Juni 2016

Iruniyah dan Ibu Mertua

Print Friendly and PDF
Dalam kehidupan rumah tangga seakan yang menjadi momok menyeramkan bagi para istri adalah mertua terlebih Ibu mertua. Dimana yang seakan berebut perhatian, istri merasa memiliki suaminya, yang sebenarnya yang berhak atas suami adalah ibu jadi sudah seharusnya ibu mertua itu ya ibu kita juga.
Ada sebuah kisah sepasang suami istri yaitu Yazid dan Iruniyah. Setelah menikah Yazid membawanya untuk tinggal di rumah ibunya dan semenjak itulah mulai ada perselisihan-persilihan mengenai ibu mertuanya. Hingga pada suatu hari Iruniyah mengadu kepada suaminya.
“Suamiku, aku tidak betah tinggal disini. Kita pergi saja darisini….” Pinta istrinya
“Istriku, aku tidak mungkin pergi dari sini. Ibuku sudah tua renta dan tidak ada yang merawatnya….hanya akulah yang bisa merawatnya.” Jelasnya
Iruniyah pun diam penuh kesal dan suatu ketika dia pergi dengan diam-diam ke seorang tabib dan menceritakan masalahnya.
“Wahai tabib, beri aku sebuah racun….untuk membunuh ibu mertuaku.aku kesal terhadap ibu mertuaku. Dia selalu ikut campur dalam rumah tanggaku. Aku ingin dia segera mati agar aku bisa menjalani kehidupan rumah tanggaku dengan tenang bersama suamiku.”
Sang tabib pun akhirnya memberikan segelas air dan berkata kepadanya,
“Ini adalah sebuah racun dan kau harus memberinya setiap hari selama 3bulan. Kau harus memberinya sendiri dan ingatlah kau harus berlemah lembut terhadapnya agar jika suatu saat nanti ibu mertuamu mati tidak ada yang mencurigai dan kau turuti semua apa yang dia inginkan. Mengalahlah terhadapnya agar nanti kau tidak disalahkan. Dan ingat kau harus melakukannya sendiri. Lakukan perintahku tadi.
“Baik tabib.” Jawab Iruniyah
Iruniyah pun kembali ke rumah dan melakukan apa yang diperintahkan tabib tersebut. Setiap pagi dia menaburkan racun ke makanan ibu mertuanya dan dia mengurusi semua keperluannya. Berlemah lembut dihadapan ibu mertuanya. Hal tersebut berlangsung cukup lama. Hingga suatu hari dia tidak sengaja mendengar perbincangan Yazid dan ibunya itu dimana hari itu adalah hari terakhir untuk menaburi racun ke ibu mertuanya.
“Yazid….aku sangat menyayangi istrimu. Dia adalah perempuan sholeha…dia megurusi semua keperluanku selama ini.” Ucap ibunya
“Alhamdulillah….” Jawab Yazid merasa senang
Iruniyah langsung menangis tesedu dan berlari menuju ke tabib yang dulu dia pernah meminta racun untuk ibunya.
“Tabib….berikan penawar racun tersebut. Aku tidak ingin ibu mertuaku mati. Dia sangat menyayangiku tabib. Aku mohon segeralah kau beri penawarnya.” Pinta Iruniyah sambil berlinangan air mata
“hahaha…Apa yang kau katakan?” jawab tabib tersebut sambil tertawa
“Yang aku beri itu hanyalah air putih biasa bukanlah racun. Fikiran kotormu itulah yang sebenarnya racun dalam hatimu.” Ucap tabib kembali
Iruniysh pun terus menangis menyesali apa yang telah dia lakukan dan kemudian kembali ke rumah dan langsung bersujud ke ibu mertuanya.
“Wahai ibu….maafkanlah aku. Aku telah berniat meracunimu selama hampir 3bulan ini ibu. Maafkanlah aku ibu…..” Ucap Iruniyah sambil menangis tersedu
Sang ibu hanya tersenyum dan memeluknya.

“Ketahuilah! Sesungguhnya di dalam jasad manusia itu terdapat segumpal daging. Jika baik segumpal daging itu, akan baiklah jasad keseluruhannya dan jika ia rusak, akan rusaklah jasad keseluruhannya. Ketahuilah! Segumpal daging yang aku maksudkan itu ialah hati.” (H.R Bukhari)
Komentar Facebook
0 Komentar Blogger

Tidak ada komentar: