Bagiku cinta adalah
cahaya,pembenaran dan keikhlasan. Cahaya yang senantiasa menerangi kita dari
kegelapan. Pembenaran yang menjadikan kita dari yang salah menjadi baik. Dan keihklasan
yang tak ada kekecewaan berlebih ketika kita sadar akan ketetapanNya bahwa dia
bukan untuk diri kita, yakin akan diberi gantinya yang lebih baik lagi. Karena
kaktus juga akan telihat indah disaat ia tengah berbunga.
“Likulli Syai-in Idza Faroqtahu
‘iwadun, Wa laisa lillahi in faroqta min ‘iwadi”
(Segala sesuatu, jika kita
berpisah darinya , pastilah ada penggantinya. Tetapi Allah, ketika berpisah
dari-Nya adakah ganti yang patut? )
Subhanallah….sungguh indah syair tersebut.
Pada dasarnya cinta
tidaklah ada kesedihan melainkan kedamaian dan ketenangan dalam hati. Ketika
kita mencintai Allah dan Rasul-Nya tidaklah ada benci yang tumbuh di hati.
Begitu juga ketika kita mencintai seseorang karena Allah, tidak pernah
sekalipun timbul benci pada hati karena yang ada hanyalah ketenangan,
penerangan seperti cahaya. Seringkali aku berusaha untuk coba membenci meski
ada keburukan yang ada pada dirinya, namun aku takkan pernah mampu karena sama
sekali diri ini tak bisa membenci.
Cinta memanglah fitrah
sehingga haruslah benar-benar kita jaga dengan baik, bukan malahan mengotorinya
dengan emosi-emosi sesaat yang menyesatkan dan berakhir penyesalan yang
menimbulkan kebencian. Mencintai karena Allah….memanglah sulit untuk dilakukan.
Aku pun juga demikian. Ketika terus mencari bagaimana mencintai sorang ikhwan
karena Allah. Bertahun-tahun aku baru menyadari bagaimana mencintai karena
Allah dan seperti apa mencintai karena Allah. Sungguh tak ada benci sedikitpun
untuk dirinya karena Cahaya itu selalu ada baik dalam gelap maupun terang. Seperti
dirinya yang menjadi cahaya dalam gelapku. Pembenaran, yang menjadikan aku dari
yang buruk menjadi cukup baik dan terus berusaha untuk menjadi baik bukan
karenanya melainkan karena-Nya. Kesedihan itu pastinya ada namun tak disertai
akan kebencian. Ketika bersedih terlebih disaat rindu mulai merasuk pada jiwa
yang hampa, hati terasa rapuh hanyalah do’a dan istighfar yang mampu menepis
semua itu. Dan tanpa tersadar kita lebih bermuhasabah kepada sang Rabb…merasa
ada sebuah ketenangan jiwa ketika kita tengah memeluk-Nya, semakin berusaha
untuk mencintai-Nya dan berharap bisa menjadi kekasih-Nya. Itulah cinta sejati,
cinta yang sesungguhnya.
Cinta itu bukanlah
pengorbanan melainkan keikhlasan ketika kita akan berusaha untuk mendapatkan
orang yang kita cintai.
Cinta sejati itu adalah
tak mampu diri ini untuk memandang parasnya
Karena dia terlalu suci
jika dikotori emosi sesaat
Dan biarlah dengan do'a cara kita menyayanginya
Menyampaikan isi hati kita
Sebesar apa kita
mencintainya
Cukuplah Allah saja yang
tahu
Dan biarlah Allah yang
menentukan pertemuan kita
Karena rencana Allah jauh
lebih indah dari kita
Karena kita hanyalah
pelakon
Pada fana yang sesaat