Kamis, 21 Mei 2015

Cinta karena Allah

Print Friendly and PDF
Bagiku cinta adalah cahaya,pembenaran dan keikhlasan. Cahaya yang senantiasa menerangi kita dari kegelapan. Pembenaran yang menjadikan kita dari yang salah menjadi baik. Dan keihklasan yang tak ada kekecewaan berlebih ketika kita sadar akan ketetapanNya bahwa dia bukan untuk diri kita, yakin akan diberi gantinya yang lebih baik lagi. Karena kaktus juga akan telihat indah disaat ia tengah berbunga.
“Likulli Syai-in Idza Faroqtahu ‘iwadun, Wa laisa lillahi in faroqta min ‘iwadi”
(Segala sesuatu, jika kita berpisah darinya , pastilah ada penggantinya. Tetapi Allah, ketika berpisah dari-Nya adakah ganti yang patut?  )
Subhanallah….sungguh indah syair tersebut.
Pada dasarnya cinta tidaklah ada kesedihan melainkan kedamaian dan ketenangan dalam hati. Ketika kita mencintai Allah dan Rasul-Nya tidaklah ada benci yang tumbuh di hati. Begitu juga ketika kita mencintai seseorang karena Allah, tidak pernah sekalipun timbul benci pada hati karena yang ada hanyalah ketenangan, penerangan seperti cahaya. Seringkali aku berusaha untuk coba membenci meski ada keburukan yang ada pada dirinya, namun aku takkan pernah mampu karena sama sekali diri ini tak bisa membenci.
Cinta memanglah fitrah sehingga haruslah benar-benar kita jaga dengan baik, bukan malahan mengotorinya dengan emosi-emosi sesaat yang menyesatkan dan berakhir penyesalan yang menimbulkan kebencian. Mencintai karena Allah….memanglah sulit untuk dilakukan. Aku pun juga demikian. Ketika terus mencari bagaimana mencintai sorang ikhwan karena Allah. Bertahun-tahun aku baru menyadari bagaimana mencintai karena Allah dan seperti apa mencintai karena Allah. Sungguh tak ada benci sedikitpun untuk dirinya karena Cahaya itu selalu ada baik dalam gelap maupun terang. Seperti dirinya yang menjadi cahaya dalam gelapku. Pembenaran, yang menjadikan aku dari yang buruk menjadi cukup baik dan terus berusaha untuk menjadi baik bukan karenanya melainkan karena-Nya. Kesedihan itu pastinya ada namun tak disertai akan kebencian. Ketika bersedih terlebih disaat rindu mulai merasuk pada jiwa yang hampa, hati terasa rapuh hanyalah do’a dan istighfar yang mampu menepis semua itu. Dan tanpa tersadar kita lebih bermuhasabah kepada sang Rabb…merasa ada sebuah ketenangan jiwa ketika kita tengah memeluk-Nya, semakin berusaha untuk mencintai-Nya dan berharap bisa menjadi kekasih-Nya. Itulah cinta sejati, cinta yang sesungguhnya.
Cinta itu bukanlah pengorbanan melainkan keikhlasan ketika kita akan berusaha untuk mendapatkan orang yang kita cintai.
Cinta sejati itu adalah tak mampu diri ini untuk memandang parasnya
Karena dia terlalu suci jika dikotori emosi sesaat
Dan biarlah dengan do'a cara kita menyayanginya
Menyampaikan isi hati kita
Sebesar apa kita mencintainya
Cukuplah Allah saja yang tahu
Dan biarlah Allah yang menentukan pertemuan kita
Karena rencana Allah jauh lebih indah dari kita
Karena kita hanyalah pelakon
Pada fana yang sesaat
Komentar Facebook
0 Komentar Blogger

Tidak ada komentar: