Jumat, 19 Februari 2016

PARENTING ALA SAYYIDINA ALI BIN ABI THALIB ra.

Print Friendly and PDF

Alhamdulillah sering menonton Islam Itu Indah setiap bada subuh jadi terus menambah ilmu. Kali ini ingin sekedar share mengenai Parenting dan jujur saya sendiri juga baru tahu ada konsep 7x3. Karena selama membaca buku-buku parenting belum pernah menemukan akan pembagian usia 7tahun selama 3x. Dan itu ternyata parenting ala Sayyidina Ali bin Abi Thalib ra yang terkenal dengan kepintaran,kejujuran dan kesetiaannya terhadap Rasulullah SAW.
“Didiklah anakmu sesuai dengan jamannya,karena mereka hidup bukan dijamanmu.” (Ali bin Abi Thalib)

Bagi orang tua anak adalah amanah dari Allah SWT yang bisa menjadi teman (surga) atau musuh sendiri(neraka) sehingga orang tua harus mendidik dan membesarkannya dengan sebaik-baiknya. Tidak sedikit orang tua yang mengeluh ketika si anak telah tumbuh dewasa namun mereka berani terhadap orang tua bahkan sampai durhaka. Sampai-sampai hanya karena harta berani mendzalimi orang tua sendiri. Astaghfirullah….naudzubillahi min dzalik
Anak dididik secara baik – baik saja bisa menjadi tidak baik akibat salah pergaulan, apalagi yang sudah salah didik dari awal. Anak adalah masa depan yang merupakan investasi bagi kedua orang tuanya di dunia dan akhirat.

Menurut Ali bin Abi Thalib ra. Ada tiga pengelompokkan dalam cara memperlakukan anak :
1.     Kelompok 7 tahun pertama (usia 0-7 tahun), perlakukan anak sebagai raja
2.    Kelompok 7 tahun kedua (usia 8-14 tahun), perlakukan anak sebagai tawanan
3.    Kelompok 7 tahun ketiga (usia 15-21 tahun), perlakukan anak sebagai sahabat

1. ANAK SEBAGAI RAJA (usia 0-7 tahun)
Yang dimaksud di sini bukan berarti kita menuruti semua keinginan anak melainkan perhatian penuh kepada anak. Karena anak di usia inilah mereka mengalami masa emas sehingga maksimal pembentukan otak 70% dan kemampuan anak menyerap informasi masih sangat kuat. Jangan serahkan sepenuhnya pada pengasuh, pada nenek – kakeknya (dan kalo menolak atau tidak berkenan dengan didikan mereka sebaiknya dengan ucapan yang tidak menyinggung karena orang tua lebih sensitif). Tapi rawatlah dia dengan sepenuh hati dan kaya akan kasih sayang.
Banyak hal kecil yang setiap hari kita lakukan ternyata akan berdampak sangat baik bagi perkembangan perilakunya, misalnya :
v  Bila kita langsung menjawab dan menghampirinya saat ia memangil kita, bahkan ketika sedang sibuk dengan pekerjaan kita maka ia akan langsung menjawab dan menghampiri kita ketika memanggilnya.
v  Saat kita tanpa bosan mengusap punggungnya hingga ia tidur, maka kelak kita akan terharu ketika ia memijat atau membelai kita saat kita kelelahan atau sakit.
v  Saat kita berusaha keras menahan emosi disaat ia melakukan kesalahan sebesar apapun, lihatlah dikemudian hari, ia akan mampu menahan emosinya ketika adik atau temannya melakukan kesalahan padanya.
Jadi ingat akan tausiyah Ustadz Haikal di acara UMMAT, ada 4 anak yang sedang bermain hingga waktu senja. Anak pertama yang ketika pulang langsung disambut sapu ibunya di depan pintu dan si ibu pun langsung memukulnya sambil memarahi karena main sampai senja. Ketiga anak tersebut pun sontak langsung tertawa ketika melihat temannya dimarahi ibunya. Anak kedua pun tiba di rumahnya dan si bapaknya langsung menyambutnya dengan tongkat sejenisnya lah kemudian langsung memarahi dan memukulnya.Kedua anak tersebut pun tertawa melihat kejadian tersebut. Anak ketiga pun demikian dan anak keempat tibalah di rumahnya. Dan dengan penuh rasa was-was dibukakanlah pintu oleh ibunya sembari tangan kanan sang ibu membawa segelas teh manis hangat dan berucap “mandi sana, ibu sudah masakin air hangat unutk kamu”
Sang anak pun langsung memeluk ibunya sambil menangis yang membuat siibu merasa heran.
“Kenapa kamu menangis?”
“Yang lain pas sampai rumah langsung dimarahi dan dipukul tapi ibu malah ngasih teh manis anget dan nyiapin air anget buat mandi.” Jawab si anak
Siibu hanya tersenyum dan Cuma menjawab “kamu pasti capek habis seharian main.”
Masya allah….dan ternyata itu adalah kisah nyata Ustadz Haikal ketika kecil dulu. Subhanallah… ntms banget ini buat saya pribadi.

v  Selalu katakana “tolong” disaat kita meminta bantuan dalam hal apapun dan “terima kasih” sesudahnya sehingga ia juga akan melakukan demikian.

2.ANAK SEBAGAI TAWANAN (8-14 tahun)
Bacanya tuh agak serem juga yah…tawanan…tawanan perang.Heheh…
Kedudukan tawanan perang dalam islam sangatlah terhormat. Ia mendapatkan haknya secara proporsional, namun juga dikenakan berbagai larangan dan kewajiban tertentu. Usia 7-14 tahun adalah usia yang tepat bagi seorang anak unutk diberikan hak dan kewajiban tertentu.
Rasulullah SAW mulai memerintahkan seorang anak unutk shalat wajib pada usia 7 tahun dan memperbolehkan kita memukul anak tersebut atau mengganti dengan hukuman seperlunya ketika ia telah berusia 10 tahun namun meninggalkan shalat. Karena itu usia 7-14 tahun adalah saat yang tepat dan pas bagi anak-anak kita untuk diperkenalkan dan diajarkan tentang hal-hal terkait hukum-hukum agama bail yang diwajibkan maupun yang dilarang, seperti :
v  Melakukan Shalat wajib 5 waktu
v  Memakai pakaian yang bersih, rapih dan menutup aurat
v  Menjaga pergaulan lawan jenis
v  Membiasakan membaca Al-Qur’an
v  Membantu pekerjaan rumah tangga yang mudah dikerjakan oleh anak seusianya
v  Menerapkan kedisiplinan dalam kegiatan sehari-sehari.
Namun demikian, perlakukan pada setiap anak tidak harus sama karena every child is unique (setiap anak itu unik)

3.ANAK SEBAGAI SAHABAT (Usia 15-21 tahun)
Usia 15 tahun adalah usia umum saat anak menginjak akil baliggh. Sebagai orang tua kita sebaiknya memposisikan diri sebagai sahabat dan memberi contoh atau teladan yang baik seperti yang diajarkan oleh Ali bin Abi Thalib ra.
v  Berbicara dari hati ke hati (adanya keterbukaan). Inilah saat yang tepat untuk berbicara dari hati ke hati dengannya, menjelaskan bahwa ia sudah remaja dan beranjak dewasa. Selain mengalami perubahan fisik, ia juga akan mengalami perubahan secara mental, spiritual, sosial, budaya dan lingkungan sehingga sangat mungkin aka nada masalah yang harus dihadapinya. Kita harus membangun kesadaran pada anak-anak kita bahwa pada usia setelah akil baligh itu ia akan mempunyai buku amalan sendiri yang kelak akan dimintai pertanggung jawaban oleh Allah SWT.
v  Memberi ruang lebih setelah memasuki usia akil baligh. Anak perlu memiliki ruang agar tidak merasa terkekang namun tetap dalam pengawasan kita.(Jadi tidak pernah salah kalo Ibu harus berpendidikan tinggi sehingga terus memberi kebebasan gerak pada anak namun maih dalam pengawasan kita. Misalnya saja gadget..kalo orang tuanya gaptek terlebih ibu yang ada kita selalu dikecohiin anak. Banyak kasus crime socmed yang banyak terjadi dan kebanyakan orang tua yang mengalami kejadian tersebut kurang up date. NTMS juga ini buat saya yang harus sebisa mungkin untuk tidak gaptek, tidak harus high tech minimal tidak gaptek). Controlling tetap harus dilakukan tanpa bersikap otoriter dan tentu saja diiringi berdo’a untuk kebaikan dan keselamatannya. Dengan demikian anak akan merasa penting, dihormati, dicintai, dihargai dan disayangi. Selanjutnya, ia akan merasa percaya diri dan mempunyai kepribadian yang kuat unutk selalu cenderung pada kebaikan dan menjauhi perilaku buruk.
v  Memperecayakan tanggung jawab yang lebih berat. Waktu usia 15-21 tahun ini penting bagi kita unutk memberinya tanggung jawab yang lebih berat dan lebih besar, dengan begini kelak anak-anak kita dapat menjadi pribadi yang cekatan, mandiri, bertanggung jawab dan dapat diandalkan.
Contoh pemberian tangung jawab pada usia ini adalah seperti memintanya membimbing adik-adiknya, mengerjakan beberapa pekerjaan yang biasa dikerjakan oleh orang dewasa atau mengatur jadwal kegiatan dan mengelola keuangan sendiri.(Bisa kita lihat keluarga halilintar dimana mempunyai anak banyak namun mampu bekerjasama dan bertanggung jawab dengan tugasnya.)
v  Membekali anak dengan keahlian hidup.
Rasulullah SAW bersabda, “Ajarilah anak-anak kalian berkuda, berenang dan memanah.”(Riwayat shahih Imam Bukhari dan Imam Muslim)
Secara harfiah, olahraga berkuda, berenang dan memanah adalah olah raga yang sangat baik unutk kebuugaran tubuh dan juga dapat menajamkan daya ingat loh… berenang dapat meningkatkan IQ. Anak mantan presiden ke tiga Indonesia B>J habibie selalu menyuruh anaknya renang sehingga di usia yang masih remaja mampu berprestasi bahkan IQnya melebihi bapaknya. Masya allah…. Untuk berkuda dan memanah itu dapat menajamkan daya ingat karna olah raga tersebut benar-benar melatih otak kita agar fokus.
Sebagian menafsirkan bahwa berkuda dapat pula diartikan mampu mengendarai kendaraan (baik darat, laut dan udara). Berenang dapat disamakan dengan ketahanan dan kemampuan fisik yang diperlukan agar menjadi muslim yang kuat. Sedangkan memanah dapat pula diartikan sebagai melatih konsentrasi dan focus pada tujuan.
Di era modern sebagian pakar memperluas tafsiran hadist diatas sebagai berikut :
Ø  Berkuda = Skill of Life. Memberi keterampilan atau keahlian sebagai bekal hidup agar memiliki rasa percaya diri, jiwa kepemimpinan dan pengendalian diri yang baik.
Ø  Berenang = Survival of Live. Mendidik anak agar selalu bersemangat, tidak mudah menyerah dan tegar dalam menghadapi masalah.
Ø  Memanah = Thinking of Life. Mengajarkan anak untuk membangun kemandirian berpikir, merencanakan masa depan dan unutk target hidupnya.


Kamis, 18 Februari 2016

⭐CARA MUDAH MENGHAFAL AL QUR’AN⭐

Print Friendly and PDF
Semoga Artikel kali ini bermanfaat dan dapat menambah semangat kaum muslimin untuk dapat menyelesaikan hafalan Al Qur’an yang mulia(#ntms banget buat saya ^ _ *)

الحمد لله والصلاة والسلام على نبينا محمد ، وعلى آله وصحبه أجمعين

🌀 Berikut adalah metode untuk menghafal Al-Quran yang memiliki keistimewaan berupa kuatnya hafalan dan cepatnya proses penghafalan. Kami akan jelaskan metode ini dengan membawa contoh satu halaman dari surat Al-Jumu’ah:

1. Bacalah ayat pertama sebanyak 20 kali :

يُسَبِّحُ لِلَّهِ مَا فِي السَّمَاوَاتِ وَمَا فِي الْأَرْضِ الْمَلِكِ الْقُدُّوسِ الْعَزِيزِ الْحَكِيمِ

2. Bacalah ayat kedua sebanyak 20 kali:

هُوَ الَّذِي بَعَثَ فِي الْأُمِّيِّينَ رَسُولًا مِنْهُمْ يَتْلُو عَلَيْهِمْ آَيَاتِهِ وَيُزَكِّيهِمْ وَيُعَلِّمُهُمُ الْكِتَابَ وَالْحِكْمَةَ وَإِنْ كَانُوا مِنْ قَبْلُ لَفِي ضَلَالٍ مُبِينٍ

3. Bacalah ayat ketiga sebanyak 20 kali:

وَآَخَرِينَ مِنْهُمْ لَمَّا يَلْحَقُوا بِهِمْ وَهُوَ الْعَزِيزُ الْحَكِيمُ

4. Bacalah ayat keempat sebanyak 20 kali:

ذَلِكَ فَضْلُ اللَّهِ يُؤْتِيهِ مَنْ يَشَاءُ وَاللَّهُ ذُو الْفَضْلِ الْعَظِيمِ

5. Bacalah keempat ayat ini dari awal sampai akhir sebanyak 20 kali untuk mengikat/menghubungkan keempat ayat tersebut.

6. Bacalah ayat kelima sebanyak 20 kali:

مَثَلُ الَّذِينَ حُمِّلُوا التَّوْرَاةَ ثُمَّ لَمْ يَحْمِلُوهَا كَمَثَلِ الْحِمَارِ يَحْمِلُ أَسْفَارًا بِئْسَ مَثَلُ الْقَوْمِ الَّذِينَ كَذَّبُوا بِآَيَاتِ اللَّهِ وَاللَّهُ لَا يَهْدِي الْقَوْمَ الظَّالِمِينَ

7. Bacalah ayat keenam sebanyak 20 kali:

قُلْ يَا أَيُّهَا الَّذِينَ هَادُوا إِنْ زَعَمْتُمْ أَنَّكُمْ أَوْلِيَاءُ لِلَّهِ مِنْ دُونِ النَّاسِ فَتَمَنَّوُا الْمَوْتَ إِنْ كُنْتُمْ صَادِقِينَ

8. Bacalah ayat ketujuh sebanyak 20 kali:

وَلَا يَتَمَنَّوْنَهُ أَبَدًا بِمَا قَدَّمَتْ أَيْدِيهِمْ وَاللَّهُ عَلِيمٌ بِالظَّالِمِينَ

9. Bacalah ayat kedelapan sebanyak 20 kali:

قُلْ إِنَّ الْمَوْتَ الَّذِي تَفِرُّونَ مِنْهُ فَإِنَّهُ مُلَاقِيكُمْ ثُمَّ تُرَدُّونَ إِلَى عَالِمِ الْغَيْبِ وَالشَّهَادَةِ فَيُنَبِّئُكُمْ بِمَا كُنْتُمْ تَعْمَلُونَ

10. Bacalah ayat kelima sampai ayat kedelepan sebanyak 20 kali untuk mengikat/menghubungkan keempat ayat tersebut.

11. Bacalah ayat pertama sampai ayat kedelepan sebanyak 20 kali untuk menguatkan/meng-itqankan hafalan untuk halaman ini.

Demikianlah ikuti cara ini dalam menghafal setiap halaman Al-Qur’an. Dan janganlah menghafal lebih dari seperdelapan juz dalam setiap hari agar tidak berat bagi anda untuk menjaganya.

🌀Bagaimana cara menggabungkan antara menambah hafalan dan muraja’ah?

🔸 Janganlah anda menghafal Al-Quran tanpa proses muraja’ah/pengulangan. Hal ini dikarenakan jika anda terus menerus menambah hafalan Al-Quran lembar demi lembar hingga selesai kemudian anda ingin untuk mengulang kembali hafalan anda dari awal maka hal itu akan berat dan anda dapati diri anda telah melupakan hafalan yang lalu. Oleh karena itu, jalan terbaik (untuk menghafal) adalah dengan menggabungkan antara menambah hafalan dan muraja’ah.

🔸 Bagilah Al-Quran menjadi 3 bagian dimana setiap bagian terdiri dari 10 juz. Jika anda menghafal satu halaman setiap hari, maka ulangilah 4 halaman sebelumnya sampai anda menghafal 10 juz. Jika anda telah mencapai 10 juz, maka berhentilah selama sebulan penuh untuk muraja’ah dengan cara mengulang-ulang 8 halaman dalam setiap harinya.

🔸 Setelah sebulan penuh muraja’ah, maka mulailah kembali untuk menambah hafalan yang baru baik satu atau dua halaman setiap harinya tergantung kemampuan disertai dengan muraja’ah sebanyak 8 halaman dalam sehari. Lakukan ini sampai anda menghafal 20 juz. Jika anda telah mencapainya, maka berhentilah dari menambah hafalan baru selama 2 bulan untuk mengulang 20 juz. Pengulangan ini dilakukan dengan mengulang 8 halaman setiap hari.

🔸 Setelah 2 bulan, mulailah kembali menambah hafalan setiap hari sebanyak satu sampai dua halaman dengan dibarengi muraja’ah/pengulangan 8 halaman sampai anda menyelesaikan seluruh Al-Qur’an.

🔸 Jika anda telah selesai menghafal seluruh Al-Qur’an, ulangilah 10 juz pertama saja selama satu bulan dimana setiap hari setengah juz. Kemudian ulangilah 10 juz kedua selama satu bulan dimana setiap hari setengah juz bersamaan dengan itu ulangilah pula 8 halaman dari 10 juz pertama. Kemudian ulangilah 10 juz terakhir selama satu bulan dimana setiap hari setengah juz bersamaan dengan itu ulangilah pula 8 halaman dari 10 juz pertama dan 8 halaman dari 10 juz kedua.

🌀 Bagaimana cara memuraja’ah/mengulang Al-Quran seluruhnya jika saya telah menyelesaikan system muraja’ah di atas?

💠 Mulailah dengan memuraja’ah Al-Qur’an setiap hari sebanyak 2 juz. Ulangilah sebanyak 3 kali setiap hari hingga anda menyelesaikan Al-Qur’an setiap 2 minggu sekali. Dengan melakukan metode seperti ini selama satu tahun penuh, maka –insya Allah- anda akan dapat memiliki hafalan yang mutqin/kokoh.

🌀 Apa yang harus dilakukan setelah menyelesaikan hafalan Al-Qur’an dalam satu tahun?

🔺Setelah setahun mengokohkan hafalan Al-Qur’an dan muraja’ahnya, jadikanlah Al-Qur’an sebagai wirid harian anda sampai akhir hayat sebagaimana Rasulullah صلى الله عليه وسلم menjadikannya sebagai wirid harian. Adalah wirid Rasulullah dengan membagi Al-Qur’an menjadi 7 bagian sehingga setiap 7 hari Al-Qur’an dapat dikhatamkan. Berkata Aus bin Hudzaifah رحمه الله: Aku bertanya pada sahabat-sahabat Rasulullah – صلى الله عليه وسلم – tentang bagaimana mereka membagi Al-Qur’an (untuk wirid harian). Mereka berkata: 3 surat, 5 surat, 7 surat, 9 surat, 11 surat, dan dari surat Qaf sampai selesai. (HR. Ahmad). Yaitu maksudnya mereka membagi wirid Al-Quran sebagai berikut:

🔹Hari pertama: membaca surat “Al Fatihah” hingga akhir surat “An-Nisa”,
🔹Hari kedua: dari surat “Al Maidah” hingga akhir surat “At-Taubah”,
🔹Hari ketiga: dari surat “Yunus” hingga akhir surat “An-Nahl”,
🔹Hari keempat: dari surat “Al Isra” hingga akhir surat “Al Furqan”,
🔹Hari kelima: dari surat “Asy Syu’ara” hingga akhir surat “Yaasin”,
🔹Hari keenam: dari surat “Ash-Shafat” hingga akhir surat “Al Hujurat”,
🔹Hari ketujuh: dari surat “Qaaf” hingga akhir surat “An-Naas”.

Wirid Rasulullah – صلى الله عليه وسلم – di singkat oleh para ulama dengan perkataan: فمي بشوق (famii bisyauqi/bibirku selalu merindukan (Al Qur'an)). Dimana setiap huruf dari kata ini merupakan surat awal dari kelompok surat yang dibaca setiap hari.

🌀 Kaidah-kaidah dan batasan-batasan dalam menghafal Al-Qur’an

Wajib bagi anda menghafal dengan bantuan seorang ustadz/syeikh untuk membenarkan bacaan anda
Hafalkan 2 halaman setiap hari (anjuran, bukan kewajiban). Caranya; Satu halaman setelah Subuh, dan satu halaman lagi sesudah Ashar atau sesudah Maghrib. Dengan cara ini, maka anda akan mampu menghafal Al-Qur’an seluruhnya dengan mutqin/kokoh dalam waktu satu tahun. Adapun jika anda menambah hafalan diatas 2 halaman setiap hari maka hafalan anda akan lemah disebabkan semakin banyaknya ayat yang harus dijaga..
Hendaklah menghafal dengan menggunakan satu cetakan mushaf karena hal ini dapat menolong anda dalam memantapkan hafalan dan meningkatkan kecepatan dalam mengingat posisi-posisi ayat serta awal dan akhir setiap halaman Al-Qur’an.
Setiap orang yang menghafal dalam 2 tahun pertama biasanya masih mudah kehilangan hafalannya. Masa ini dinamakan dengan Marhalah Tajmi’ (fase pengumpulan). Janganlah bersedih atas mudahnya hafalan anda hilang atau banyaknya kekeliruan anda. Karena memang fase ini merupakan fase cobaan yang sulit. Dan waspadalah, karena syaithan akan mengambil kesempatan ini untuk menggoda anda agar berhenti dari menghafal Al-Qur’an. Maka janganlah perdulikan rasa was-was syaithan tersebut dan teruskan menghafal karena sesungguhnya itu adalah harta yang sangat berharga yang tidak diberikan pada setiap orang.

Reference :
Ditulis oleh Syeikh Abdul Muhsin Al-Qasim 
Beliau adalah Imam dan Khatib di Masjid Nabawi

 🔲AHQ&IHQ🔲

Selasa, 09 Februari 2016

BILAL BIN RABAH

Print Friendly and PDF
Ketika diceritakan oleh Ustadzah Oki di Islam Itu Indah di salah satu stasiun swasta ,ikutan banjir juga pas si cantik Ustadzah Oki menangis dalam mengisahkan Bilal bin Rabah si muadzin yang tak sanggup adzan dan menangis tersedan hingga pingsan selepas peninggalan Rasulullah. Yuuk mengenal sosok Bilal bin Rabah lebih dalam.
Bilal bin rabah adalah seoarang budak berkulit hitam dari Habsyah (sekarang Ethiopia). Bilal lahir di daerah as-Sarah sekitar 43 tahun sebelum Hijriyah. Ayahnya bernama Rabah, sedangkan ibunya bernama Hamamah, seorang budak wanita berkulit hitam yang tingal di Mekah. Karena ibunya itu, sebagian orang memanggil Bilal dengan sebutan Ibnus-Sauda’ (putra wanita hitam).
Bilal dibesarkan di kota Ummul Qura (Mekah) sebagai budak milik keluarga bani Abduddar. Saat ayah mereka meninggal, Bilal diwariskan kepada Umayyah bin Khalaf, seorang tokoh penting kaum kafir.
Bilal adalah termasuk orang-orang pertama yang memeluk Islam. Diriwayatkan, saat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dan Abu Bakar radhiallahu ‘anhu beruzlah di gua, lewatlah Bilal yang sedang menggembala kambing-kambing milik Abdullah bin Jad’an. Saat Rasulullah melihat Bilal yang sedang bersama kambing-kambing tersebut beliau berkata, “Wahai penggembala, apakah engkau memiliki susu?” Bilal menjawab, “Tidak ada, hanya kambing ini saja. Apabila kalian mau, kusisihkan susunya hari ini untuk kalian.” Rasulullah berkata, “Bawa kemari kambingmu itu.”
Setelah Bilal mendekat, Rasulullah berdoa dengan membawa sebuah bejana yang besar, lalu memerah susu kambing dan memenuhi bejana tersebut. Beliau meminumnya hingga kenyang. Setelah itu memerah kembali susunya hingga bejana penuh, lalu memberikannya kepada Abu Bakar hingga Abu Bakar kenyang. Kemudian memerahnya kembali sampai bejana terisi penuh dan menyerahkannya kepada Bilal. Bilal pun meminumnya hingga kenyang.
Kemudian Rasulullah bertanya kepada Bilal, “Apakah engkau telah mengenal Islam? Sesungguhnya aku adalah utusan Allah.” Bilal pun memeluk Islam berkat dakwah Rasulullah tersebut dan memerintahkan Bilal agar menyembunyikan keislamannya. Bilal pun pulang dengan kambingnya yang kantung susunya mengembung penuh. Sepulangnya dari penggembalaan Bilal menemui pemilik kambing, lalu sang pemilik mengatakan, “Engkau telah menggembalakannya dengan baik, ambillah kambing itu untukmu.”
Selama beberapa hari kemudian, Bilal tetap menemui Rasulullah untuk menyajikan susu kambing dan belajar Islam kepada beliau.
Saat Bilal masuk islam, hanya beberapa orang yang telah mendahuluinya seperti Ummul Mu’minin Khadijah binti Khuwailid, Abu bakar ash-Shidiq, Ali bin Abu thalib, ‘Ammar bin Yasir bersama ibunya, Sumayyah, Shuhaib ar-Rumi dan al-Miqdad bin al-Aswad.
Orang-orang yang tertindas (mustadh’afun) dari kalangan hamba sahaya dan budak itu, tidak memiliki siapa pun sehingga orang-orang Quraisy menyiksa tanpa belas kasihan. Tidak seperti Abu bakar Shidiq dan Ali bin Abu Thalib yang memiliki keluarga dan suku yang membela mereka sehingga mendapat perlindungan.

Orang Quraisy ingin menjadikan penyiksaan atas mereka sebagai contoh dan pelajaran bagi setiap orang yang ingin mengikuti ajaran Muhammad. Abu jahal menghina dan mencaci maki Sumayyah kemudian menghujamkan tombaknya pada perut Sumayyah hingga menembus punggung, dan gugurlah syuhada pertama dalam Islam. Sementara itu, saudara-saudara seperjuangan Sumayyah, terutama Bilal bin Rabah terus disiksa oleh Quraisy tanpa henti. Biasanya, apabila matahari tepat di atas ubun-ubun dan padang pasir Mekah berubah menjadi perapian yang begitu menyengat, orang-orang Quraisy itu mulai membuka pakaian orang-orang Islam yang tertindas itu. Lalu memakaikan baju besi pada mereka dan membiarkan mereka terbakar oleh sengatan matahari yang terasa terik bahkan mencambuk tubuh mereka sambil memaksa mereka mencaci maki Muhammad.
Bilal merasakan penganiayaan yang lebih berat dari siapapun. Berbagai macam kekerasan, siksaan dan kekejaman mendera tubuhnya. Namun ia, sebagaimana kaum muslimin yang lemah lainnya, tetap sabar menghadapi ujian di jalan Allah itu dengan kesabaran yang jarang sanggup ditunjukkan oleh siapa pun. Yang paling banyak menyiksa adalah Umayyah bin Khalaf bersama algojonya. Mereka menghantam punggung telanjang Bilal dengan cambuk.

Orang Quraisy yang paling banyak menyiksa Bilal adalah Umayyah bin Khlaf bersama para algojonya. Mereka menghantam punggung telanjang Bilal dengan cambuk, namun Bilal hanya berkata, “Ahad, Ahad…(Allah Maha Esa).” Mereka menindih dada telanjang Bilal dengan batu besar yang panas, Bilal pun hanya berkata, “Ahad, Ahad…”
Mereka semakin meningkatkan penyikssaan, namun Bilal tetap mengatakan, “ Ahad, Ahad…” Mereka memaksa Bilal agar memuji Latta dan Uzza, tapi Bilal justru memuji Allah dan rasul-Nya. Mereka terus memaksanya. “ Ikutlah yang kami katakana!”
Bilal menjawab, “Lidahku tidak bisa mengatakannya.” Jawaban ini membuat siksaan mereka semakin hebat dan keras.
Apabila merasa lelah dan bosan menyiksa, sang tiran, Umayyah bin Khalaf, mengikat leher Bilal dengan tali yang kasar lalu menyerahkannya kepada sejumlah orang tak berbudi dan anak-naka agar menarik di jalanan dan menyeretnya di sepanjang Abthah Mekah. Sementara itu, Bilal menikmati siksaan yang diterimanya karena membela ajaran Allah dan Rasul-Nya. Ia terus mengumandangkan pernyataan agungnya “Ahad…Ahad…Ahad…Ahad…” Ia terus mengulangnya tanpa merasa bosan dan lelah. (ikutan nangis T – T jg pas OSD nangis dalam menceritakan tersebut).
Suatu ketika Abu Bakar r.a mengajukan penawaran kepada Umayyah bin Khalaf untuk membeli Bilal darinya, Umayyah menaikkan harga berlipat ganda. Ia mengira Abu bakar tidak akan mau membayarnya. Tapi ternyata, Abu Bakar setuju walaupun harus mengeluarkan Sembilan uqiyah emas.
Seusai transaksi, Umayyah berkata kepada Abu Bakar, “ Sebenarnya, kalau engkau menawar sampai satu uqiyah-pun, maka aku tidak akan ragu untuk menjualnya.”
Abu Bakar membalas, “Seandainya engkau memberi tawaran sampai seratus uqiyah-pun, amak aku tidak akan ragu untuk membelinya.”

Ketika Abu Bakar memberi tahu Rasulullah SAW bahwa ia telah membeli sekaligus menyelamatkan Bilal dari cengkeraman para penyiksanya, Rasulullah SAW berkata kepada Abu Bakar, “Kalau begitu, biarkan aku bersekutu denganmu untuk membayarnya, wahai Abu bakar.”
Abu Bakar r.a menjawab, “Aku telah memerdekakannya, wahai Rasulullah.”
Setelah Rasulullah mengizinkan sahabat-sahabatnya untuk hijrah ke Madinah, mereka segera berhijrah termasuk Bilal r.a. Setibanya di Madinah, Bilal tinggal satu rumah dengan Abu Bakar dan ‘Amir bin Fihr. Malangnya, mereka terkena penyakit demam. Apabila demamnya agak reda, Bilal melantunkan gurindam kerinduan dengan suaranya yang jernih.
“Duhai malangnya aku, akankah suatu malam nanti, aku bermalam di Fakh dikelilingi pohon idzkhir dan jalil. Akankah suatu hari nanti aku minum air Mijannah. Akankah aku melihat lagi pegunungan Syamah dan Thafil.”
Tidak perlu heran mengapa Bilal begitu mendambakan Mekah dan perkampungannya, merindukan lembah dan pegunungannya, karena di sanalah ia merasakan nikmatnya iman. Di sanalah ia menikmati segala bentuk siksaan untuk mendapatkan keridhaan Allah. Di sanalah ia berhasil melawan nafsu dan godaan setan.

Bilal tinggal di Madinah dengan tenang dan jauh dari jangkauan orang-orang Quraisy yang kerap menyiksanya. Kini, ia mencurahkan segenap perhatiannya untuk menyertai Nabi sekaligus kekasihnya, Muhammad Shalallahu ‘alaihi wasallam. Bilal selalu mebgikuti Rasulullah SAW kemanapun beliau pergi. Selau bersamanya saat shalat maupun ketika pergi untuk bejihad. Kebersamaannya dengan Rasulullah SAW ibarat bayangan yang tidak pernah lepas dari pemiliknya.
Ketika Rasulullah SAW selesai membangun Masjid Nabawi di Madinah dan menetapkan azan, maka Bilal ditunjuk sebagai orang pertama yang mengumandangkan azan (muazin) dalam sejarah Islam.

Dari Zaid bin Arqam berkata, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
نعم المرء بلال، هو سيد المؤذنين، ولا يتبعه إلا مؤذن، والمؤذنون أطول الناس أعناقًا يوم القيامة

“Iya, orang itu adalah Bilal, pemuka para muadzin dan tidaklah mengikutinya kecuali para muadzin. Para muadzin adalah orang-orang yang panjang lehernya di hari kiamat. “

Biasanya, setelah mengumandangkan azan, Bilal berdiri di depan pintu rumah Rasulullah SAW seraya beseru, “Hayya ‘alashsholaati hayya ‘alashsholaati…(Mari melaksanakan shalat, mari meraih keuntungan…)” Lalu, ketika Rasulullah  SAW keluar dari rumah dan Bilal melihat beliau, Bilal segera melantunkan iqomat.

Suatu ketika, Najasyi, Raja Habasyah, menghadiahkan tiga tombak pendek yang termasuk barang-barang paling istimewa miliknya kepada Rasulullah SAW. Rasulullah SAW mengambil satu tombak, sementara sisanya diberikan kepada Ali bin Abu Thalib dan Umar ibunul Khaththab, tapi tidak lama kemudian, beliau memberikan tombak itu kepada Bilal. Sejak saat itu, selama Rasulullah hidup, Bilal selalu membawa tombak pendek itu ke mana-mana. Ia membawanya dalam kesempatan dua shalat ‘id (Idul Fitri dan Idul Adha), dan shalat istisqo’ (mohon turun hujan), dan menancapkannya di hadapan beliau saat melakukan shalat di luar masjid.


Bilal menyertai Nabi Muhammad SAW dalam perang Badar. Ia menyaksikan dengan mata kepalanya sendiri bagaimana Allah memenuhi janji-Nya dan menolong tentara-Nya. Ia juga melihat langsung tewasnya para pembesar Quraisy yang pernah menyiksanya dengan hebat. Ia melihat Abu Jahal dan Umayyah bin Khalaf tersungkur berkalang tanah ditembus pedang kaum muslimin dan darahnya mengalir deras karena tusukan tomabk orang-orang yang mereka siksa dahulu.
Ketika Rasulullah SAW menaklukan kota Mekah, beliau berjalan di depan pasukan hijaunya bersama ‘sang pengumandang panggilan langit’ Bilal bin Rabah. Saat masuk ke Ka’bah, beliau hanya ditemani oleh tiga orang, yaitu Utsman bin Thalhah, pembawa kunci ka’bah, Usamah bin Zaid yang dikenal sebagai kekasih Rasulullah SAW dan putra dari kekasihnya, dan Bilal bin Rabah, Muadzin Rasulullah SAW. Shalat Zhuhur tiba, ribuan orang berkumpul di sekitar Rasulullah SAW termasuk orang-orang Quraisy yang baru masuk Islam saat itu, baik dengan suka hati maupun terpaksa. Semuanya menyaksikan pemandangan yang agung itu. Pada saat-saat yang sangat bersejarah itu, Rasulullah SAW memanggil Bilal bin Rabah agar naik kea tap Ka’bah untuk mengumandangkan kalimat tauhid dari sana. Bilal melaksanakan perintah Rasulullah SAW dengan senang hati, lalu mengumandangkan azan dengan suaranya yang bersih dan jelas. Ribuan pasang mata memandang ke arahnya dan ribuan lidah mengikuti kalmat azan yang dikumandangkannya. Tetapi di sisi lain, orang-orang yang tidak beriman dengan sepenuh hatinya, tak kuasa memendam hasad di dalam dada. Mereka merasa kedengkian telah merobek-robek hati mereka.
Saat adzan yang dikumandangkan Bilal sampai pada kalimat, “Asyhadu anna muhammadan rasulullaahi (Aku bersaksi bahwa Muhammad adalah utusan Allah)” Juwairiyah binti Abu Jahal bergumam, “Sungguh, Allah telah mengangkat kedudukanmu. Memang, kami tetap akan shalat, tapi demi Allah, kami tidak menyukai orang yang telah membunuh orang-orang yang kami sayangi.” Maksudnya adalah ayahnya yang tewas dalam Perang Badar.
Khalid bin Usaid berkata, “Aku bersyukur kepada Allah yang telah memuliakan ayahku dengan tidak menyaksikan peristiwa hari ini.” Kebetulan ayahnya meninggal sehari sebelum Rasulullah SAW masuk ke kota Mekah. Sementara Al-harits bin Hisyam berkata, “Sungguh malang nasibku, mengapa aku tidak mati saja sebelum melihat Bilal naik ke atas Ka’bah.”
Ai-Hakam bin abu al-‘Ash berkata, “Demi Allah, ini musibah yang sangat besar. Seorang budak bani Jumah bersuara di atas bangunan ini (Ka’bah).”
Sementara Abu sufyan yang berada dekat mereka hanya berkata, “Aku tidak mengatakan apapun, karena kalau aku membuat pernyataan, walaupun hanya satu kalimat, maka akan sampai kepada Muhammah bin Abdullah.”

Bilal menjadi muadzin tetap selama Rasulullah SAW hidup. Selama itu pula, Rasulullah SAW sangat menyukai suara yang saat disiksa dengan siksaan yang begitu berat di masa lalu, ia melantunkan kaat, “Ahad…Ahad…(Allah Maha Esa).”
Sesaat setelah Rasulullah SAW menghembuskan nafas terakhir, waktu shalat tiba Bilal bediri untuk mengumandangkan azan, sementara jasad Rasulullah SAW masih terbungkus kain kafan dan belum dikebumikan. Saat Bilal sampai pada kalimat, “Asyhadu anna muhammadan rasulullaahi (Aku bersaksi bahwa Muhammad adalah utusan Allah)”, tiba-tiba suaranya terhenti. Ia tidak sanggup mengangkat suaranya lagi. Kaum muslimin yang hadir di sana tak kuasa menahan tangis, maka meledaklah suara isak tangis yang membuat suasana semakin mangharu biru.
 Sejak kepergian Rasulullah SAW, Bilal hanya sanggup mengumandangkan azan selama tiga hari. Setiap sampai kepada kalimat “Asyhadu anna muhammadan rasulullaahi (Aku bersaksi bahwa Muhammad adalah utusan Allah)”, ia langsung mengis tersedu-sedu. Begitu pula kaum muslimin yang mendengarnya, larut dalam tangisan pilu. (ketika ustadzah banjir pas di sesi ini,ikutan banjir juga aku….terharu banget T_T masya Allah…)
Karena itu, Bilal memohon kepada Abu bakar, yang menggantikan posisi Rasulullah SAW sebagai pemimpin, agar diperkenankan tidak mengumandangkan azan lagi, karena tidak sanggup melakukannya. Selain itu, Bilal juga meminta izin kepadanya untuk keluar dari kota Madinah dengan alas an berjihad di jalan Allah dan ikut berperang ke wilayah Syam.
Awalnya Abu bakar ash-shiddiq merasa ragu untuk mengabulkan permohonan Bilal sekaligus mengizinkannya keluar dari kota Madinah, namun Bilal mendesaknya seraya berkata, “Jika dulu engkau membeliku untuk kepentingan dirimu sendiri, maka engkau berhak menahanku, tapi jika engkau telah memerdekakanku karena Allah, maka biarkanlah aku bebas menuju kepada-Nya.”
Abu Bakar menjawab, “Demi Allah, aku benar-benar membelimu untuk Allah dan aku memerdekakanmu juga karena Allah.”
Bilal menyahut, “Kalau begitu, aku tidak akan pernah mengumandangkan azan untuk siapa pun setelah Rasulullah SAW wafat.”
Abu Bakar menjawab, “Baiklah, aku mengabulkannya.”

Bilal pergi meninggalkan Madinah bersama pasukan pertama yang dikirim Abu Bakar. Ia tinggal di daerah Darayya yang terletak tidak jauh dari kota Damaskus. Bilal benar-benar tidak mau mengumandangkan azan hingga kedatangan Umar ibnul Khaththab ke wilayah Syam, yang kembali bertemu dengan Bilal Radhiallahu ‘anhu setelah terpisah cukup lama.
Umar sangat merindukan pertemuan dengan Bilal dan menaruh rasa hormat begitu besar kepadanya, sehingga jika ada yang menyebut-nyebut nama Abu Bakar Ash-shidiq di depannya, maka umar segera menimpali (yang artinya), “Abu Bakar adalah
Tuan kita dan telah memerdekakan tuan kita (maksudnya adalah Bilal).
Dalam kesempatan peretemuan tersebut, sejumlah sahabat mendesak Bilal agar mau mengumandangkan azan di hadapan al-Faruq Umar ibnul Khaththab. Ketika suara Bilal yang nyaring itu kembali terdengar mengumandangkan azan, Umar tidak sanggup menahan tangisnya, maka iapun menangis tersedu-sedu, yang kemudian diikuti oleh seluruh sahabat yang hadir hingga janggut mereka basah dengan air mata. Suara Bilal membangkitkan segenap kerinduan mereka kepada masa-masa kehidupan yang dilewati di Madinah bersama Rasulullah SAW…Bilal.”Pengumandang seruan langit itu.”
Menjelang saat-saat kematiannya, pada saat itu Bilal berada di Damaskus, Istrinya berkata “ Benar-benar suatu duka.” Tapi Bilal berkata “Tidak, katakanlah: Benar-benar kebahagiaan, karena besok aku akan menemui Rasulullah SAW dan para sahabat.

Dalam sebuah hadits shahih yang diriwayatkan Imam Muslim dari Abu Hurairah berkata,
عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلّمَ لِبِلاَلٍ عِنْدَ صَلاَةِ الْغَدَاةِ يَا بِلاَلُ حَدِّثْنِي بِأَرْجَى عَمَلٍ عَمِلْتَهُ عِنْدَكَ فِي اْلإِسْلاَمِ مَنْفَعَةً فَإِنِّي سَمِعْتُ اللَّيْلَةَ خَشْفَ نَعْلَيْكَ بَيْنَ يَدَيَّ فِي الْجَنَّةِ قَالَ بِلاَلٌ مَا عَمِلْتُ عَمَلاً فِي اْلإِسْلاَمِ أَرْجَى عِنْدِيْ مَنْفَعَةً مِنْ أَنِّي لاَ أَتَطَهَّرُ طُهُوْرًا تَامًّا فِي سَاعَةٍ مِنْ لَيْلٍ وَلاَ نَهَارٍ إِلاَّ صَلَّيْتُ بِذَلِكَ الطُّهُوْرِ مَا كَتَبَ اللَّهُ لِيْ أَنْ أُصَلِّيَ (رواه مسلم)

Dari Abu Jurairah radhiyallahu ‘anhu. Beliau radhiayallahu ‘anhu mengatakan “Rasulullah bersabda kepada Bilal setelah menunaikan shalat shubuh. ‘wahai Bilal beritahukanlah kepadaku tentang perbuatan-perbuatanmu yang paling engkau harapkan manfaatnya dalam Islam! Karena sesungguhnya tadi malam aku mendengar suara terampahmu di depan surge. “Bilal radhiyallahu ‘anhu menjawab, “Tidak ada satu perbuatan pun yang pernah aku lakukan, yang lebih kuharapkan manfaatnya dalam Islam dibandingkan dengan (harapanku terhadap) perbuatanku yang senantiasa melakukam shalat (sunat) yang mampu aku lakukan setiap selesai bersuci (wudhu) dengan sempurna di waktu siang ataupun malam.’” (H.R Muslim)


Rasulullah SAW bersabda “Dunia adalah penjara bagi orang-orang yang beriman, dan surga bagi orang-orang kafir.”
Kenapa dunia menjadi penjara bagi orang-orang beriman? Karena dunia menahan mereka bertemu dengan Allah SWT dan Rasul-Nya. Dan surga bagi orang-orang kafir karena hanya inilah yang mereka miliki.

Reference :
Wikipedia.org
kisahikisahislamiah.blogspot.com 
Islamstory.com 
www.KisahMuslim.com