Alhamdulillah sering menonton Islam Itu
Indah setiap bada subuh jadi terus menambah ilmu. Kali ini ingin sekedar share
mengenai Parenting dan jujur saya sendiri juga baru tahu ada konsep 7x3. Karena
selama membaca buku-buku parenting belum pernah menemukan akan pembagian usia
7tahun selama 3x. Dan itu ternyata parenting ala Sayyidina Ali bin Abi Thalib
ra yang terkenal dengan kepintaran,kejujuran dan kesetiaannya terhadap
Rasulullah SAW.
“Didiklah anakmu sesuai dengan
jamannya,karena mereka hidup bukan dijamanmu.” (Ali bin Abi Thalib)
Bagi orang tua anak adalah amanah dari
Allah SWT yang bisa menjadi teman (surga) atau musuh sendiri(neraka) sehingga
orang tua harus mendidik dan membesarkannya dengan sebaik-baiknya. Tidak
sedikit orang tua yang mengeluh ketika si anak telah tumbuh dewasa namun mereka
berani terhadap orang tua bahkan sampai durhaka. Sampai-sampai hanya karena
harta berani mendzalimi orang tua sendiri. Astaghfirullah….naudzubillahi min
dzalik
Anak dididik secara baik – baik saja bisa
menjadi tidak baik akibat salah pergaulan, apalagi yang sudah salah didik dari
awal. Anak adalah masa depan yang merupakan investasi bagi kedua orang tuanya
di dunia dan akhirat.
Menurut Ali bin Abi Thalib ra. Ada tiga
pengelompokkan dalam cara memperlakukan anak :
1. Kelompok
7 tahun pertama (usia 0-7 tahun), perlakukan anak sebagai raja
2. Kelompok
7 tahun kedua (usia 8-14 tahun), perlakukan anak sebagai tawanan
3. Kelompok
7 tahun ketiga (usia 15-21 tahun), perlakukan anak sebagai sahabat
1. ANAK SEBAGAI RAJA (usia 0-7 tahun)
Yang dimaksud di sini bukan berarti kita
menuruti semua keinginan anak melainkan perhatian penuh kepada anak. Karena
anak di usia inilah mereka mengalami masa emas sehingga maksimal pembentukan
otak 70% dan kemampuan anak menyerap informasi masih sangat kuat. Jangan
serahkan sepenuhnya pada pengasuh, pada nenek – kakeknya (dan kalo menolak atau
tidak berkenan dengan didikan mereka sebaiknya dengan ucapan yang tidak
menyinggung karena orang tua lebih sensitif). Tapi rawatlah dia dengan sepenuh
hati dan kaya akan kasih sayang.
Banyak hal kecil yang setiap hari kita
lakukan ternyata akan berdampak sangat baik bagi perkembangan perilakunya,
misalnya :
v Bila
kita langsung menjawab dan menghampirinya saat ia memangil kita, bahkan ketika
sedang sibuk dengan pekerjaan kita maka ia akan langsung menjawab dan
menghampiri kita ketika memanggilnya.
v Saat
kita tanpa bosan mengusap punggungnya hingga ia tidur, maka kelak kita akan
terharu ketika ia memijat atau membelai kita saat kita kelelahan atau sakit.
v Saat
kita berusaha keras menahan emosi disaat ia melakukan kesalahan sebesar apapun,
lihatlah dikemudian hari, ia akan mampu menahan emosinya ketika adik atau temannya
melakukan kesalahan padanya.
Jadi ingat akan tausiyah
Ustadz Haikal di acara UMMAT, ada 4 anak yang sedang bermain hingga waktu
senja. Anak pertama yang ketika pulang langsung disambut sapu ibunya di depan
pintu dan si ibu pun langsung memukulnya sambil memarahi karena main sampai
senja. Ketiga anak tersebut pun sontak langsung tertawa ketika melihat temannya
dimarahi ibunya. Anak kedua pun tiba di rumahnya dan si bapaknya langsung
menyambutnya dengan tongkat sejenisnya lah kemudian langsung memarahi dan
memukulnya.Kedua anak tersebut pun tertawa melihat kejadian tersebut. Anak ketiga
pun demikian dan anak keempat tibalah di rumahnya. Dan dengan penuh rasa
was-was dibukakanlah pintu oleh ibunya sembari tangan kanan sang ibu membawa
segelas teh manis hangat dan berucap “mandi sana, ibu sudah masakin air hangat
unutk kamu”
Sang anak pun langsung
memeluk ibunya sambil menangis yang membuat siibu merasa heran.
“Kenapa kamu menangis?”
“Yang lain pas sampai
rumah langsung dimarahi dan dipukul tapi ibu malah ngasih teh manis anget dan
nyiapin air anget buat mandi.” Jawab si anak
Siibu hanya tersenyum
dan Cuma menjawab “kamu pasti capek habis seharian main.”
Masya allah….dan
ternyata itu adalah kisah nyata Ustadz Haikal ketika kecil dulu. Subhanallah…
ntms banget ini buat saya pribadi.
v Selalu
katakana “tolong” disaat kita meminta bantuan dalam hal apapun dan “terima
kasih” sesudahnya sehingga ia juga akan melakukan demikian.
2.ANAK SEBAGAI TAWANAN (8-14 tahun)
Bacanya tuh agak serem juga yah…tawanan…tawanan
perang.Heheh…
Kedudukan tawanan perang dalam islam
sangatlah terhormat. Ia mendapatkan haknya secara proporsional, namun juga
dikenakan berbagai larangan dan kewajiban tertentu. Usia 7-14 tahun adalah usia
yang tepat bagi seorang anak unutk diberikan hak dan kewajiban tertentu.
Rasulullah SAW mulai memerintahkan seorang
anak unutk shalat wajib pada usia 7 tahun dan memperbolehkan kita memukul anak
tersebut atau mengganti dengan hukuman seperlunya ketika ia telah berusia 10
tahun namun meninggalkan shalat. Karena itu usia 7-14 tahun adalah saat yang
tepat dan pas bagi anak-anak kita untuk diperkenalkan dan diajarkan tentang
hal-hal terkait hukum-hukum agama bail yang diwajibkan maupun yang dilarang,
seperti :
v Melakukan
Shalat wajib 5 waktu
v Memakai
pakaian yang bersih, rapih dan menutup aurat
v Menjaga
pergaulan lawan jenis
v Membiasakan
membaca Al-Qur’an
v Membantu
pekerjaan rumah tangga yang mudah dikerjakan oleh anak seusianya
v Menerapkan
kedisiplinan dalam kegiatan sehari-sehari.
Namun demikian, perlakukan pada setiap anak
tidak harus sama karena every child is unique (setiap anak itu unik)
3.ANAK SEBAGAI SAHABAT (Usia 15-21 tahun)
Usia 15 tahun adalah usia umum saat anak
menginjak akil baliggh. Sebagai orang tua kita sebaiknya memposisikan diri
sebagai sahabat dan memberi contoh atau teladan yang baik seperti yang
diajarkan oleh Ali bin Abi Thalib ra.
v Berbicara
dari hati ke hati (adanya keterbukaan). Inilah saat yang tepat untuk berbicara
dari hati ke hati dengannya, menjelaskan bahwa ia sudah remaja dan beranjak
dewasa. Selain mengalami perubahan fisik, ia juga akan mengalami perubahan
secara mental, spiritual, sosial, budaya dan lingkungan sehingga sangat mungkin
aka nada masalah yang harus dihadapinya. Kita harus membangun kesadaran pada
anak-anak kita bahwa pada usia setelah akil baligh itu ia akan mempunyai buku
amalan sendiri yang kelak akan dimintai pertanggung jawaban oleh Allah SWT.
v Memberi
ruang lebih setelah memasuki usia akil baligh. Anak perlu memiliki ruang agar
tidak merasa terkekang namun tetap dalam pengawasan kita.(Jadi tidak pernah
salah kalo Ibu harus berpendidikan tinggi sehingga terus memberi kebebasan
gerak pada anak namun maih dalam pengawasan kita. Misalnya saja gadget..kalo
orang tuanya gaptek terlebih ibu yang ada kita selalu dikecohiin anak. Banyak
kasus crime socmed yang banyak terjadi dan kebanyakan orang tua yang mengalami
kejadian tersebut kurang up date. NTMS juga ini buat saya yang harus sebisa
mungkin untuk tidak gaptek, tidak harus high tech minimal tidak gaptek).
Controlling tetap harus dilakukan tanpa bersikap otoriter dan tentu saja
diiringi berdo’a untuk kebaikan dan keselamatannya. Dengan demikian anak akan
merasa penting, dihormati, dicintai, dihargai dan disayangi. Selanjutnya, ia
akan merasa percaya diri dan mempunyai kepribadian yang kuat unutk selalu
cenderung pada kebaikan dan menjauhi perilaku buruk.
v Memperecayakan
tanggung jawab yang lebih berat. Waktu usia 15-21 tahun ini penting bagi kita
unutk memberinya tanggung jawab yang lebih berat dan lebih besar, dengan begini
kelak anak-anak kita dapat menjadi pribadi yang cekatan, mandiri, bertanggung
jawab dan dapat diandalkan.
Contoh
pemberian tangung jawab pada usia ini adalah seperti memintanya membimbing
adik-adiknya, mengerjakan beberapa pekerjaan yang biasa dikerjakan oleh orang
dewasa atau mengatur jadwal kegiatan dan mengelola keuangan sendiri.(Bisa kita
lihat keluarga halilintar dimana mempunyai anak banyak namun mampu bekerjasama
dan bertanggung jawab dengan tugasnya.)
v Membekali
anak dengan keahlian hidup.
Rasulullah
SAW bersabda, “Ajarilah anak-anak kalian berkuda, berenang dan memanah.”(Riwayat
shahih Imam Bukhari dan Imam Muslim)
Secara
harfiah, olahraga berkuda, berenang dan memanah adalah olah raga yang sangat
baik unutk kebuugaran tubuh dan juga dapat menajamkan daya ingat loh… berenang
dapat meningkatkan IQ. Anak mantan presiden ke tiga Indonesia B>J habibie
selalu menyuruh anaknya renang sehingga di usia yang masih remaja mampu
berprestasi bahkan IQnya melebihi bapaknya. Masya allah…. Untuk berkuda dan
memanah itu dapat menajamkan daya ingat karna olah raga tersebut benar-benar
melatih otak kita agar fokus.
Sebagian
menafsirkan bahwa berkuda dapat pula diartikan mampu mengendarai kendaraan
(baik darat, laut dan udara). Berenang dapat disamakan dengan ketahanan dan
kemampuan fisik yang diperlukan agar menjadi muslim yang kuat. Sedangkan
memanah dapat pula diartikan sebagai melatih konsentrasi dan focus pada tujuan.
Di
era modern sebagian pakar memperluas tafsiran hadist diatas sebagai berikut :
Ø Berkuda
= Skill of Life. Memberi keterampilan atau keahlian sebagai bekal hidup agar
memiliki rasa percaya diri, jiwa kepemimpinan dan pengendalian diri yang baik.
Ø Berenang
= Survival of Live. Mendidik anak agar selalu bersemangat, tidak mudah menyerah
dan tegar dalam menghadapi masalah.
Ø Memanah
= Thinking of Life. Mengajarkan anak untuk membangun kemandirian berpikir,
merencanakan masa depan dan unutk target hidupnya.