Jumat, 19 Februari 2016

PARENTING ALA SAYYIDINA ALI BIN ABI THALIB ra.

Print Friendly and PDF

Alhamdulillah sering menonton Islam Itu Indah setiap bada subuh jadi terus menambah ilmu. Kali ini ingin sekedar share mengenai Parenting dan jujur saya sendiri juga baru tahu ada konsep 7x3. Karena selama membaca buku-buku parenting belum pernah menemukan akan pembagian usia 7tahun selama 3x. Dan itu ternyata parenting ala Sayyidina Ali bin Abi Thalib ra yang terkenal dengan kepintaran,kejujuran dan kesetiaannya terhadap Rasulullah SAW.
“Didiklah anakmu sesuai dengan jamannya,karena mereka hidup bukan dijamanmu.” (Ali bin Abi Thalib)

Bagi orang tua anak adalah amanah dari Allah SWT yang bisa menjadi teman (surga) atau musuh sendiri(neraka) sehingga orang tua harus mendidik dan membesarkannya dengan sebaik-baiknya. Tidak sedikit orang tua yang mengeluh ketika si anak telah tumbuh dewasa namun mereka berani terhadap orang tua bahkan sampai durhaka. Sampai-sampai hanya karena harta berani mendzalimi orang tua sendiri. Astaghfirullah….naudzubillahi min dzalik
Anak dididik secara baik – baik saja bisa menjadi tidak baik akibat salah pergaulan, apalagi yang sudah salah didik dari awal. Anak adalah masa depan yang merupakan investasi bagi kedua orang tuanya di dunia dan akhirat.

Menurut Ali bin Abi Thalib ra. Ada tiga pengelompokkan dalam cara memperlakukan anak :
1.     Kelompok 7 tahun pertama (usia 0-7 tahun), perlakukan anak sebagai raja
2.    Kelompok 7 tahun kedua (usia 8-14 tahun), perlakukan anak sebagai tawanan
3.    Kelompok 7 tahun ketiga (usia 15-21 tahun), perlakukan anak sebagai sahabat

1. ANAK SEBAGAI RAJA (usia 0-7 tahun)
Yang dimaksud di sini bukan berarti kita menuruti semua keinginan anak melainkan perhatian penuh kepada anak. Karena anak di usia inilah mereka mengalami masa emas sehingga maksimal pembentukan otak 70% dan kemampuan anak menyerap informasi masih sangat kuat. Jangan serahkan sepenuhnya pada pengasuh, pada nenek – kakeknya (dan kalo menolak atau tidak berkenan dengan didikan mereka sebaiknya dengan ucapan yang tidak menyinggung karena orang tua lebih sensitif). Tapi rawatlah dia dengan sepenuh hati dan kaya akan kasih sayang.
Banyak hal kecil yang setiap hari kita lakukan ternyata akan berdampak sangat baik bagi perkembangan perilakunya, misalnya :
v  Bila kita langsung menjawab dan menghampirinya saat ia memangil kita, bahkan ketika sedang sibuk dengan pekerjaan kita maka ia akan langsung menjawab dan menghampiri kita ketika memanggilnya.
v  Saat kita tanpa bosan mengusap punggungnya hingga ia tidur, maka kelak kita akan terharu ketika ia memijat atau membelai kita saat kita kelelahan atau sakit.
v  Saat kita berusaha keras menahan emosi disaat ia melakukan kesalahan sebesar apapun, lihatlah dikemudian hari, ia akan mampu menahan emosinya ketika adik atau temannya melakukan kesalahan padanya.
Jadi ingat akan tausiyah Ustadz Haikal di acara UMMAT, ada 4 anak yang sedang bermain hingga waktu senja. Anak pertama yang ketika pulang langsung disambut sapu ibunya di depan pintu dan si ibu pun langsung memukulnya sambil memarahi karena main sampai senja. Ketiga anak tersebut pun sontak langsung tertawa ketika melihat temannya dimarahi ibunya. Anak kedua pun tiba di rumahnya dan si bapaknya langsung menyambutnya dengan tongkat sejenisnya lah kemudian langsung memarahi dan memukulnya.Kedua anak tersebut pun tertawa melihat kejadian tersebut. Anak ketiga pun demikian dan anak keempat tibalah di rumahnya. Dan dengan penuh rasa was-was dibukakanlah pintu oleh ibunya sembari tangan kanan sang ibu membawa segelas teh manis hangat dan berucap “mandi sana, ibu sudah masakin air hangat unutk kamu”
Sang anak pun langsung memeluk ibunya sambil menangis yang membuat siibu merasa heran.
“Kenapa kamu menangis?”
“Yang lain pas sampai rumah langsung dimarahi dan dipukul tapi ibu malah ngasih teh manis anget dan nyiapin air anget buat mandi.” Jawab si anak
Siibu hanya tersenyum dan Cuma menjawab “kamu pasti capek habis seharian main.”
Masya allah….dan ternyata itu adalah kisah nyata Ustadz Haikal ketika kecil dulu. Subhanallah… ntms banget ini buat saya pribadi.

v  Selalu katakana “tolong” disaat kita meminta bantuan dalam hal apapun dan “terima kasih” sesudahnya sehingga ia juga akan melakukan demikian.

2.ANAK SEBAGAI TAWANAN (8-14 tahun)
Bacanya tuh agak serem juga yah…tawanan…tawanan perang.Heheh…
Kedudukan tawanan perang dalam islam sangatlah terhormat. Ia mendapatkan haknya secara proporsional, namun juga dikenakan berbagai larangan dan kewajiban tertentu. Usia 7-14 tahun adalah usia yang tepat bagi seorang anak unutk diberikan hak dan kewajiban tertentu.
Rasulullah SAW mulai memerintahkan seorang anak unutk shalat wajib pada usia 7 tahun dan memperbolehkan kita memukul anak tersebut atau mengganti dengan hukuman seperlunya ketika ia telah berusia 10 tahun namun meninggalkan shalat. Karena itu usia 7-14 tahun adalah saat yang tepat dan pas bagi anak-anak kita untuk diperkenalkan dan diajarkan tentang hal-hal terkait hukum-hukum agama bail yang diwajibkan maupun yang dilarang, seperti :
v  Melakukan Shalat wajib 5 waktu
v  Memakai pakaian yang bersih, rapih dan menutup aurat
v  Menjaga pergaulan lawan jenis
v  Membiasakan membaca Al-Qur’an
v  Membantu pekerjaan rumah tangga yang mudah dikerjakan oleh anak seusianya
v  Menerapkan kedisiplinan dalam kegiatan sehari-sehari.
Namun demikian, perlakukan pada setiap anak tidak harus sama karena every child is unique (setiap anak itu unik)

3.ANAK SEBAGAI SAHABAT (Usia 15-21 tahun)
Usia 15 tahun adalah usia umum saat anak menginjak akil baliggh. Sebagai orang tua kita sebaiknya memposisikan diri sebagai sahabat dan memberi contoh atau teladan yang baik seperti yang diajarkan oleh Ali bin Abi Thalib ra.
v  Berbicara dari hati ke hati (adanya keterbukaan). Inilah saat yang tepat untuk berbicara dari hati ke hati dengannya, menjelaskan bahwa ia sudah remaja dan beranjak dewasa. Selain mengalami perubahan fisik, ia juga akan mengalami perubahan secara mental, spiritual, sosial, budaya dan lingkungan sehingga sangat mungkin aka nada masalah yang harus dihadapinya. Kita harus membangun kesadaran pada anak-anak kita bahwa pada usia setelah akil baligh itu ia akan mempunyai buku amalan sendiri yang kelak akan dimintai pertanggung jawaban oleh Allah SWT.
v  Memberi ruang lebih setelah memasuki usia akil baligh. Anak perlu memiliki ruang agar tidak merasa terkekang namun tetap dalam pengawasan kita.(Jadi tidak pernah salah kalo Ibu harus berpendidikan tinggi sehingga terus memberi kebebasan gerak pada anak namun maih dalam pengawasan kita. Misalnya saja gadget..kalo orang tuanya gaptek terlebih ibu yang ada kita selalu dikecohiin anak. Banyak kasus crime socmed yang banyak terjadi dan kebanyakan orang tua yang mengalami kejadian tersebut kurang up date. NTMS juga ini buat saya yang harus sebisa mungkin untuk tidak gaptek, tidak harus high tech minimal tidak gaptek). Controlling tetap harus dilakukan tanpa bersikap otoriter dan tentu saja diiringi berdo’a untuk kebaikan dan keselamatannya. Dengan demikian anak akan merasa penting, dihormati, dicintai, dihargai dan disayangi. Selanjutnya, ia akan merasa percaya diri dan mempunyai kepribadian yang kuat unutk selalu cenderung pada kebaikan dan menjauhi perilaku buruk.
v  Memperecayakan tanggung jawab yang lebih berat. Waktu usia 15-21 tahun ini penting bagi kita unutk memberinya tanggung jawab yang lebih berat dan lebih besar, dengan begini kelak anak-anak kita dapat menjadi pribadi yang cekatan, mandiri, bertanggung jawab dan dapat diandalkan.
Contoh pemberian tangung jawab pada usia ini adalah seperti memintanya membimbing adik-adiknya, mengerjakan beberapa pekerjaan yang biasa dikerjakan oleh orang dewasa atau mengatur jadwal kegiatan dan mengelola keuangan sendiri.(Bisa kita lihat keluarga halilintar dimana mempunyai anak banyak namun mampu bekerjasama dan bertanggung jawab dengan tugasnya.)
v  Membekali anak dengan keahlian hidup.
Rasulullah SAW bersabda, “Ajarilah anak-anak kalian berkuda, berenang dan memanah.”(Riwayat shahih Imam Bukhari dan Imam Muslim)
Secara harfiah, olahraga berkuda, berenang dan memanah adalah olah raga yang sangat baik unutk kebuugaran tubuh dan juga dapat menajamkan daya ingat loh… berenang dapat meningkatkan IQ. Anak mantan presiden ke tiga Indonesia B>J habibie selalu menyuruh anaknya renang sehingga di usia yang masih remaja mampu berprestasi bahkan IQnya melebihi bapaknya. Masya allah…. Untuk berkuda dan memanah itu dapat menajamkan daya ingat karna olah raga tersebut benar-benar melatih otak kita agar fokus.
Sebagian menafsirkan bahwa berkuda dapat pula diartikan mampu mengendarai kendaraan (baik darat, laut dan udara). Berenang dapat disamakan dengan ketahanan dan kemampuan fisik yang diperlukan agar menjadi muslim yang kuat. Sedangkan memanah dapat pula diartikan sebagai melatih konsentrasi dan focus pada tujuan.
Di era modern sebagian pakar memperluas tafsiran hadist diatas sebagai berikut :
Ø  Berkuda = Skill of Life. Memberi keterampilan atau keahlian sebagai bekal hidup agar memiliki rasa percaya diri, jiwa kepemimpinan dan pengendalian diri yang baik.
Ø  Berenang = Survival of Live. Mendidik anak agar selalu bersemangat, tidak mudah menyerah dan tegar dalam menghadapi masalah.
Ø  Memanah = Thinking of Life. Mengajarkan anak untuk membangun kemandirian berpikir, merencanakan masa depan dan unutk target hidupnya.


Komentar Facebook
0 Komentar Blogger

Tidak ada komentar: