Selasa, 09 Februari 2016

BILAL BIN RABAH

Print Friendly and PDF
Ketika diceritakan oleh Ustadzah Oki di Islam Itu Indah di salah satu stasiun swasta ,ikutan banjir juga pas si cantik Ustadzah Oki menangis dalam mengisahkan Bilal bin Rabah si muadzin yang tak sanggup adzan dan menangis tersedan hingga pingsan selepas peninggalan Rasulullah. Yuuk mengenal sosok Bilal bin Rabah lebih dalam.
Bilal bin rabah adalah seoarang budak berkulit hitam dari Habsyah (sekarang Ethiopia). Bilal lahir di daerah as-Sarah sekitar 43 tahun sebelum Hijriyah. Ayahnya bernama Rabah, sedangkan ibunya bernama Hamamah, seorang budak wanita berkulit hitam yang tingal di Mekah. Karena ibunya itu, sebagian orang memanggil Bilal dengan sebutan Ibnus-Sauda’ (putra wanita hitam).
Bilal dibesarkan di kota Ummul Qura (Mekah) sebagai budak milik keluarga bani Abduddar. Saat ayah mereka meninggal, Bilal diwariskan kepada Umayyah bin Khalaf, seorang tokoh penting kaum kafir.
Bilal adalah termasuk orang-orang pertama yang memeluk Islam. Diriwayatkan, saat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dan Abu Bakar radhiallahu ‘anhu beruzlah di gua, lewatlah Bilal yang sedang menggembala kambing-kambing milik Abdullah bin Jad’an. Saat Rasulullah melihat Bilal yang sedang bersama kambing-kambing tersebut beliau berkata, “Wahai penggembala, apakah engkau memiliki susu?” Bilal menjawab, “Tidak ada, hanya kambing ini saja. Apabila kalian mau, kusisihkan susunya hari ini untuk kalian.” Rasulullah berkata, “Bawa kemari kambingmu itu.”
Setelah Bilal mendekat, Rasulullah berdoa dengan membawa sebuah bejana yang besar, lalu memerah susu kambing dan memenuhi bejana tersebut. Beliau meminumnya hingga kenyang. Setelah itu memerah kembali susunya hingga bejana penuh, lalu memberikannya kepada Abu Bakar hingga Abu Bakar kenyang. Kemudian memerahnya kembali sampai bejana terisi penuh dan menyerahkannya kepada Bilal. Bilal pun meminumnya hingga kenyang.
Kemudian Rasulullah bertanya kepada Bilal, “Apakah engkau telah mengenal Islam? Sesungguhnya aku adalah utusan Allah.” Bilal pun memeluk Islam berkat dakwah Rasulullah tersebut dan memerintahkan Bilal agar menyembunyikan keislamannya. Bilal pun pulang dengan kambingnya yang kantung susunya mengembung penuh. Sepulangnya dari penggembalaan Bilal menemui pemilik kambing, lalu sang pemilik mengatakan, “Engkau telah menggembalakannya dengan baik, ambillah kambing itu untukmu.”
Selama beberapa hari kemudian, Bilal tetap menemui Rasulullah untuk menyajikan susu kambing dan belajar Islam kepada beliau.
Saat Bilal masuk islam, hanya beberapa orang yang telah mendahuluinya seperti Ummul Mu’minin Khadijah binti Khuwailid, Abu bakar ash-Shidiq, Ali bin Abu thalib, ‘Ammar bin Yasir bersama ibunya, Sumayyah, Shuhaib ar-Rumi dan al-Miqdad bin al-Aswad.
Orang-orang yang tertindas (mustadh’afun) dari kalangan hamba sahaya dan budak itu, tidak memiliki siapa pun sehingga orang-orang Quraisy menyiksa tanpa belas kasihan. Tidak seperti Abu bakar Shidiq dan Ali bin Abu Thalib yang memiliki keluarga dan suku yang membela mereka sehingga mendapat perlindungan.

Orang Quraisy ingin menjadikan penyiksaan atas mereka sebagai contoh dan pelajaran bagi setiap orang yang ingin mengikuti ajaran Muhammad. Abu jahal menghina dan mencaci maki Sumayyah kemudian menghujamkan tombaknya pada perut Sumayyah hingga menembus punggung, dan gugurlah syuhada pertama dalam Islam. Sementara itu, saudara-saudara seperjuangan Sumayyah, terutama Bilal bin Rabah terus disiksa oleh Quraisy tanpa henti. Biasanya, apabila matahari tepat di atas ubun-ubun dan padang pasir Mekah berubah menjadi perapian yang begitu menyengat, orang-orang Quraisy itu mulai membuka pakaian orang-orang Islam yang tertindas itu. Lalu memakaikan baju besi pada mereka dan membiarkan mereka terbakar oleh sengatan matahari yang terasa terik bahkan mencambuk tubuh mereka sambil memaksa mereka mencaci maki Muhammad.
Bilal merasakan penganiayaan yang lebih berat dari siapapun. Berbagai macam kekerasan, siksaan dan kekejaman mendera tubuhnya. Namun ia, sebagaimana kaum muslimin yang lemah lainnya, tetap sabar menghadapi ujian di jalan Allah itu dengan kesabaran yang jarang sanggup ditunjukkan oleh siapa pun. Yang paling banyak menyiksa adalah Umayyah bin Khalaf bersama algojonya. Mereka menghantam punggung telanjang Bilal dengan cambuk.

Orang Quraisy yang paling banyak menyiksa Bilal adalah Umayyah bin Khlaf bersama para algojonya. Mereka menghantam punggung telanjang Bilal dengan cambuk, namun Bilal hanya berkata, “Ahad, Ahad…(Allah Maha Esa).” Mereka menindih dada telanjang Bilal dengan batu besar yang panas, Bilal pun hanya berkata, “Ahad, Ahad…”
Mereka semakin meningkatkan penyikssaan, namun Bilal tetap mengatakan, “ Ahad, Ahad…” Mereka memaksa Bilal agar memuji Latta dan Uzza, tapi Bilal justru memuji Allah dan rasul-Nya. Mereka terus memaksanya. “ Ikutlah yang kami katakana!”
Bilal menjawab, “Lidahku tidak bisa mengatakannya.” Jawaban ini membuat siksaan mereka semakin hebat dan keras.
Apabila merasa lelah dan bosan menyiksa, sang tiran, Umayyah bin Khalaf, mengikat leher Bilal dengan tali yang kasar lalu menyerahkannya kepada sejumlah orang tak berbudi dan anak-naka agar menarik di jalanan dan menyeretnya di sepanjang Abthah Mekah. Sementara itu, Bilal menikmati siksaan yang diterimanya karena membela ajaran Allah dan Rasul-Nya. Ia terus mengumandangkan pernyataan agungnya “Ahad…Ahad…Ahad…Ahad…” Ia terus mengulangnya tanpa merasa bosan dan lelah. (ikutan nangis T – T jg pas OSD nangis dalam menceritakan tersebut).
Suatu ketika Abu Bakar r.a mengajukan penawaran kepada Umayyah bin Khalaf untuk membeli Bilal darinya, Umayyah menaikkan harga berlipat ganda. Ia mengira Abu bakar tidak akan mau membayarnya. Tapi ternyata, Abu Bakar setuju walaupun harus mengeluarkan Sembilan uqiyah emas.
Seusai transaksi, Umayyah berkata kepada Abu Bakar, “ Sebenarnya, kalau engkau menawar sampai satu uqiyah-pun, maka aku tidak akan ragu untuk menjualnya.”
Abu Bakar membalas, “Seandainya engkau memberi tawaran sampai seratus uqiyah-pun, amak aku tidak akan ragu untuk membelinya.”

Ketika Abu Bakar memberi tahu Rasulullah SAW bahwa ia telah membeli sekaligus menyelamatkan Bilal dari cengkeraman para penyiksanya, Rasulullah SAW berkata kepada Abu Bakar, “Kalau begitu, biarkan aku bersekutu denganmu untuk membayarnya, wahai Abu bakar.”
Abu Bakar r.a menjawab, “Aku telah memerdekakannya, wahai Rasulullah.”
Setelah Rasulullah mengizinkan sahabat-sahabatnya untuk hijrah ke Madinah, mereka segera berhijrah termasuk Bilal r.a. Setibanya di Madinah, Bilal tinggal satu rumah dengan Abu Bakar dan ‘Amir bin Fihr. Malangnya, mereka terkena penyakit demam. Apabila demamnya agak reda, Bilal melantunkan gurindam kerinduan dengan suaranya yang jernih.
“Duhai malangnya aku, akankah suatu malam nanti, aku bermalam di Fakh dikelilingi pohon idzkhir dan jalil. Akankah suatu hari nanti aku minum air Mijannah. Akankah aku melihat lagi pegunungan Syamah dan Thafil.”
Tidak perlu heran mengapa Bilal begitu mendambakan Mekah dan perkampungannya, merindukan lembah dan pegunungannya, karena di sanalah ia merasakan nikmatnya iman. Di sanalah ia menikmati segala bentuk siksaan untuk mendapatkan keridhaan Allah. Di sanalah ia berhasil melawan nafsu dan godaan setan.

Bilal tinggal di Madinah dengan tenang dan jauh dari jangkauan orang-orang Quraisy yang kerap menyiksanya. Kini, ia mencurahkan segenap perhatiannya untuk menyertai Nabi sekaligus kekasihnya, Muhammad Shalallahu ‘alaihi wasallam. Bilal selalu mebgikuti Rasulullah SAW kemanapun beliau pergi. Selau bersamanya saat shalat maupun ketika pergi untuk bejihad. Kebersamaannya dengan Rasulullah SAW ibarat bayangan yang tidak pernah lepas dari pemiliknya.
Ketika Rasulullah SAW selesai membangun Masjid Nabawi di Madinah dan menetapkan azan, maka Bilal ditunjuk sebagai orang pertama yang mengumandangkan azan (muazin) dalam sejarah Islam.

Dari Zaid bin Arqam berkata, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
نعم المرء بلال، هو سيد المؤذنين، ولا يتبعه إلا مؤذن، والمؤذنون أطول الناس أعناقًا يوم القيامة

“Iya, orang itu adalah Bilal, pemuka para muadzin dan tidaklah mengikutinya kecuali para muadzin. Para muadzin adalah orang-orang yang panjang lehernya di hari kiamat. “

Biasanya, setelah mengumandangkan azan, Bilal berdiri di depan pintu rumah Rasulullah SAW seraya beseru, “Hayya ‘alashsholaati hayya ‘alashsholaati…(Mari melaksanakan shalat, mari meraih keuntungan…)” Lalu, ketika Rasulullah  SAW keluar dari rumah dan Bilal melihat beliau, Bilal segera melantunkan iqomat.

Suatu ketika, Najasyi, Raja Habasyah, menghadiahkan tiga tombak pendek yang termasuk barang-barang paling istimewa miliknya kepada Rasulullah SAW. Rasulullah SAW mengambil satu tombak, sementara sisanya diberikan kepada Ali bin Abu Thalib dan Umar ibunul Khaththab, tapi tidak lama kemudian, beliau memberikan tombak itu kepada Bilal. Sejak saat itu, selama Rasulullah hidup, Bilal selalu membawa tombak pendek itu ke mana-mana. Ia membawanya dalam kesempatan dua shalat ‘id (Idul Fitri dan Idul Adha), dan shalat istisqo’ (mohon turun hujan), dan menancapkannya di hadapan beliau saat melakukan shalat di luar masjid.


Bilal menyertai Nabi Muhammad SAW dalam perang Badar. Ia menyaksikan dengan mata kepalanya sendiri bagaimana Allah memenuhi janji-Nya dan menolong tentara-Nya. Ia juga melihat langsung tewasnya para pembesar Quraisy yang pernah menyiksanya dengan hebat. Ia melihat Abu Jahal dan Umayyah bin Khalaf tersungkur berkalang tanah ditembus pedang kaum muslimin dan darahnya mengalir deras karena tusukan tomabk orang-orang yang mereka siksa dahulu.
Ketika Rasulullah SAW menaklukan kota Mekah, beliau berjalan di depan pasukan hijaunya bersama ‘sang pengumandang panggilan langit’ Bilal bin Rabah. Saat masuk ke Ka’bah, beliau hanya ditemani oleh tiga orang, yaitu Utsman bin Thalhah, pembawa kunci ka’bah, Usamah bin Zaid yang dikenal sebagai kekasih Rasulullah SAW dan putra dari kekasihnya, dan Bilal bin Rabah, Muadzin Rasulullah SAW. Shalat Zhuhur tiba, ribuan orang berkumpul di sekitar Rasulullah SAW termasuk orang-orang Quraisy yang baru masuk Islam saat itu, baik dengan suka hati maupun terpaksa. Semuanya menyaksikan pemandangan yang agung itu. Pada saat-saat yang sangat bersejarah itu, Rasulullah SAW memanggil Bilal bin Rabah agar naik kea tap Ka’bah untuk mengumandangkan kalimat tauhid dari sana. Bilal melaksanakan perintah Rasulullah SAW dengan senang hati, lalu mengumandangkan azan dengan suaranya yang bersih dan jelas. Ribuan pasang mata memandang ke arahnya dan ribuan lidah mengikuti kalmat azan yang dikumandangkannya. Tetapi di sisi lain, orang-orang yang tidak beriman dengan sepenuh hatinya, tak kuasa memendam hasad di dalam dada. Mereka merasa kedengkian telah merobek-robek hati mereka.
Saat adzan yang dikumandangkan Bilal sampai pada kalimat, “Asyhadu anna muhammadan rasulullaahi (Aku bersaksi bahwa Muhammad adalah utusan Allah)” Juwairiyah binti Abu Jahal bergumam, “Sungguh, Allah telah mengangkat kedudukanmu. Memang, kami tetap akan shalat, tapi demi Allah, kami tidak menyukai orang yang telah membunuh orang-orang yang kami sayangi.” Maksudnya adalah ayahnya yang tewas dalam Perang Badar.
Khalid bin Usaid berkata, “Aku bersyukur kepada Allah yang telah memuliakan ayahku dengan tidak menyaksikan peristiwa hari ini.” Kebetulan ayahnya meninggal sehari sebelum Rasulullah SAW masuk ke kota Mekah. Sementara Al-harits bin Hisyam berkata, “Sungguh malang nasibku, mengapa aku tidak mati saja sebelum melihat Bilal naik ke atas Ka’bah.”
Ai-Hakam bin abu al-‘Ash berkata, “Demi Allah, ini musibah yang sangat besar. Seorang budak bani Jumah bersuara di atas bangunan ini (Ka’bah).”
Sementara Abu sufyan yang berada dekat mereka hanya berkata, “Aku tidak mengatakan apapun, karena kalau aku membuat pernyataan, walaupun hanya satu kalimat, maka akan sampai kepada Muhammah bin Abdullah.”

Bilal menjadi muadzin tetap selama Rasulullah SAW hidup. Selama itu pula, Rasulullah SAW sangat menyukai suara yang saat disiksa dengan siksaan yang begitu berat di masa lalu, ia melantunkan kaat, “Ahad…Ahad…(Allah Maha Esa).”
Sesaat setelah Rasulullah SAW menghembuskan nafas terakhir, waktu shalat tiba Bilal bediri untuk mengumandangkan azan, sementara jasad Rasulullah SAW masih terbungkus kain kafan dan belum dikebumikan. Saat Bilal sampai pada kalimat, “Asyhadu anna muhammadan rasulullaahi (Aku bersaksi bahwa Muhammad adalah utusan Allah)”, tiba-tiba suaranya terhenti. Ia tidak sanggup mengangkat suaranya lagi. Kaum muslimin yang hadir di sana tak kuasa menahan tangis, maka meledaklah suara isak tangis yang membuat suasana semakin mangharu biru.
 Sejak kepergian Rasulullah SAW, Bilal hanya sanggup mengumandangkan azan selama tiga hari. Setiap sampai kepada kalimat “Asyhadu anna muhammadan rasulullaahi (Aku bersaksi bahwa Muhammad adalah utusan Allah)”, ia langsung mengis tersedu-sedu. Begitu pula kaum muslimin yang mendengarnya, larut dalam tangisan pilu. (ketika ustadzah banjir pas di sesi ini,ikutan banjir juga aku….terharu banget T_T masya Allah…)
Karena itu, Bilal memohon kepada Abu bakar, yang menggantikan posisi Rasulullah SAW sebagai pemimpin, agar diperkenankan tidak mengumandangkan azan lagi, karena tidak sanggup melakukannya. Selain itu, Bilal juga meminta izin kepadanya untuk keluar dari kota Madinah dengan alas an berjihad di jalan Allah dan ikut berperang ke wilayah Syam.
Awalnya Abu bakar ash-shiddiq merasa ragu untuk mengabulkan permohonan Bilal sekaligus mengizinkannya keluar dari kota Madinah, namun Bilal mendesaknya seraya berkata, “Jika dulu engkau membeliku untuk kepentingan dirimu sendiri, maka engkau berhak menahanku, tapi jika engkau telah memerdekakanku karena Allah, maka biarkanlah aku bebas menuju kepada-Nya.”
Abu Bakar menjawab, “Demi Allah, aku benar-benar membelimu untuk Allah dan aku memerdekakanmu juga karena Allah.”
Bilal menyahut, “Kalau begitu, aku tidak akan pernah mengumandangkan azan untuk siapa pun setelah Rasulullah SAW wafat.”
Abu Bakar menjawab, “Baiklah, aku mengabulkannya.”

Bilal pergi meninggalkan Madinah bersama pasukan pertama yang dikirim Abu Bakar. Ia tinggal di daerah Darayya yang terletak tidak jauh dari kota Damaskus. Bilal benar-benar tidak mau mengumandangkan azan hingga kedatangan Umar ibnul Khaththab ke wilayah Syam, yang kembali bertemu dengan Bilal Radhiallahu ‘anhu setelah terpisah cukup lama.
Umar sangat merindukan pertemuan dengan Bilal dan menaruh rasa hormat begitu besar kepadanya, sehingga jika ada yang menyebut-nyebut nama Abu Bakar Ash-shidiq di depannya, maka umar segera menimpali (yang artinya), “Abu Bakar adalah
Tuan kita dan telah memerdekakan tuan kita (maksudnya adalah Bilal).
Dalam kesempatan peretemuan tersebut, sejumlah sahabat mendesak Bilal agar mau mengumandangkan azan di hadapan al-Faruq Umar ibnul Khaththab. Ketika suara Bilal yang nyaring itu kembali terdengar mengumandangkan azan, Umar tidak sanggup menahan tangisnya, maka iapun menangis tersedu-sedu, yang kemudian diikuti oleh seluruh sahabat yang hadir hingga janggut mereka basah dengan air mata. Suara Bilal membangkitkan segenap kerinduan mereka kepada masa-masa kehidupan yang dilewati di Madinah bersama Rasulullah SAW…Bilal.”Pengumandang seruan langit itu.”
Menjelang saat-saat kematiannya, pada saat itu Bilal berada di Damaskus, Istrinya berkata “ Benar-benar suatu duka.” Tapi Bilal berkata “Tidak, katakanlah: Benar-benar kebahagiaan, karena besok aku akan menemui Rasulullah SAW dan para sahabat.

Dalam sebuah hadits shahih yang diriwayatkan Imam Muslim dari Abu Hurairah berkata,
عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلّمَ لِبِلاَلٍ عِنْدَ صَلاَةِ الْغَدَاةِ يَا بِلاَلُ حَدِّثْنِي بِأَرْجَى عَمَلٍ عَمِلْتَهُ عِنْدَكَ فِي اْلإِسْلاَمِ مَنْفَعَةً فَإِنِّي سَمِعْتُ اللَّيْلَةَ خَشْفَ نَعْلَيْكَ بَيْنَ يَدَيَّ فِي الْجَنَّةِ قَالَ بِلاَلٌ مَا عَمِلْتُ عَمَلاً فِي اْلإِسْلاَمِ أَرْجَى عِنْدِيْ مَنْفَعَةً مِنْ أَنِّي لاَ أَتَطَهَّرُ طُهُوْرًا تَامًّا فِي سَاعَةٍ مِنْ لَيْلٍ وَلاَ نَهَارٍ إِلاَّ صَلَّيْتُ بِذَلِكَ الطُّهُوْرِ مَا كَتَبَ اللَّهُ لِيْ أَنْ أُصَلِّيَ (رواه مسلم)

Dari Abu Jurairah radhiyallahu ‘anhu. Beliau radhiayallahu ‘anhu mengatakan “Rasulullah bersabda kepada Bilal setelah menunaikan shalat shubuh. ‘wahai Bilal beritahukanlah kepadaku tentang perbuatan-perbuatanmu yang paling engkau harapkan manfaatnya dalam Islam! Karena sesungguhnya tadi malam aku mendengar suara terampahmu di depan surge. “Bilal radhiyallahu ‘anhu menjawab, “Tidak ada satu perbuatan pun yang pernah aku lakukan, yang lebih kuharapkan manfaatnya dalam Islam dibandingkan dengan (harapanku terhadap) perbuatanku yang senantiasa melakukam shalat (sunat) yang mampu aku lakukan setiap selesai bersuci (wudhu) dengan sempurna di waktu siang ataupun malam.’” (H.R Muslim)


Rasulullah SAW bersabda “Dunia adalah penjara bagi orang-orang yang beriman, dan surga bagi orang-orang kafir.”
Kenapa dunia menjadi penjara bagi orang-orang beriman? Karena dunia menahan mereka bertemu dengan Allah SWT dan Rasul-Nya. Dan surga bagi orang-orang kafir karena hanya inilah yang mereka miliki.

Reference :
Wikipedia.org
kisahikisahislamiah.blogspot.com 
Islamstory.com 
www.KisahMuslim.com
Komentar Facebook
0 Komentar Blogger

Tidak ada komentar: