Zainab telah
wafat sejak 15 abad yang lalu, tetapi dia meninggalkan kenangan terbaik dan
menjadi contoh terbaik dalam hal kesetiaan sebagai isteri, keikhlasan cinta dan
ketulusan iman.
Zainab dilahirkan pada tahun 30 setelah kelahiran Nabi SAW. Ia adalah anak sulung dari pasutri paling mulia, ayahnya adalah al-Amin ( orang yang terpercaya) Rasullullah SAW dan ibunya adalah ath-Thahirah (wanita yang suci) Khadijah Radhiallahu'anhu. Di tengah keluarga yang mulia itulah zainab dibesarkan dan dididik. Meski hidup di lingkungan berada, zainab tidaklah hidup bermanja-manja. Ia biasa membantu tugas ibu dalam melakukan aktivitas rutin rumah tangga. dari merawat rumah sampai mengasuh adik-adiknya Ruqoyah, Ummu Kultsum dan Fatimah. Makanya tak heran jika kalau Fatiimah menganggap Zainab sebagai ibu keduanya.
Sebagai buah dari ketelatenan didikan seorang ibu, maka tak heran bila Zainab menjadi wanita pilihan dan kembang bagi pemuda Quraisy pada masa itu. Ketika mencapai usia perkawinan, bibinya yaitu Halah binti Khuwalid saudara Ummul Mu'minin Khadijah meminang unutk puteranya Abil Ash bin Rabi'. Semua pihal setuju dan ridha. Zainab binti Muhammad SAW diboyong ke rumah Abil Ash bin Rabi'. [Ibnu Sa'ad menyebutkan bahwa Abil Ash mengawini Zainab sebelum Nabi Muhammad SAW diangkat menjadi Nabi. Imam Adz-Dzahabi berkata : Ini adalah jauh. Kemudian dia berkata : Zainab masuk islam 6 tahun sebelum suaminya masuk islam.]
Khadijah pergi menemui kedua suami istri yang saling mencintai itu dan mendo'akan agar keduanya mendapatkan berkah. Kemudian dia melepas kalungnya dan menggantungkannya ke leher Zainab sebagai hadiah bagi pengantin. Perkawinan itu berlangsung sebelum turun wahyu kepada ayahnya, Nabi Muhammad SAW. Ketika cahaya Tuhannya menerangi bumi, Zainab pun beriman. Akan tetapi Abil Ash tidak mudah meninggalkan agamanya. Maka kedua suami istri itu merasa bahwa kekuatan yang lebih kuat dari cinta mereka berusaha memisahkan keduanya.
Abil Ash tetap membangkang dan berkata : "Tidak akan tercapai tujuan diantara kita wahai Zainab, kecuali engkau tetap dalam agamamu dan aku tetap dalam agamaku." Adapun Zainab, maka dia berkata :"Sabarlah, wahai suamiku. engkau tidak halal bagiku selama engkau tetap memeluk agama itu. Maka serahkan aku kepada ayahku atau masuklah Islam bersamaku. Zainab tidak akan menjadi milikmu sejak hari ini, kecuali bila engkau beriman pada agama yang aku imani. Pasangan suami isteri itu terdiam sebentar sambil merenung. Keduanya sadar ketika terdengar suara yang membisikkan kepada keduanya :"Jika agama memisahkan antara kedua jasad mereka, maka cinta mereka akan tetap ada hingga keduanya dipersatukan oleh sebuah agama."
Zainab dilahirkan pada tahun 30 setelah kelahiran Nabi SAW. Ia adalah anak sulung dari pasutri paling mulia, ayahnya adalah al-Amin ( orang yang terpercaya) Rasullullah SAW dan ibunya adalah ath-Thahirah (wanita yang suci) Khadijah Radhiallahu'anhu. Di tengah keluarga yang mulia itulah zainab dibesarkan dan dididik. Meski hidup di lingkungan berada, zainab tidaklah hidup bermanja-manja. Ia biasa membantu tugas ibu dalam melakukan aktivitas rutin rumah tangga. dari merawat rumah sampai mengasuh adik-adiknya Ruqoyah, Ummu Kultsum dan Fatimah. Makanya tak heran jika kalau Fatiimah menganggap Zainab sebagai ibu keduanya.
Sebagai buah dari ketelatenan didikan seorang ibu, maka tak heran bila Zainab menjadi wanita pilihan dan kembang bagi pemuda Quraisy pada masa itu. Ketika mencapai usia perkawinan, bibinya yaitu Halah binti Khuwalid saudara Ummul Mu'minin Khadijah meminang unutk puteranya Abil Ash bin Rabi'. Semua pihal setuju dan ridha. Zainab binti Muhammad SAW diboyong ke rumah Abil Ash bin Rabi'. [Ibnu Sa'ad menyebutkan bahwa Abil Ash mengawini Zainab sebelum Nabi Muhammad SAW diangkat menjadi Nabi. Imam Adz-Dzahabi berkata : Ini adalah jauh. Kemudian dia berkata : Zainab masuk islam 6 tahun sebelum suaminya masuk islam.]
Khadijah pergi menemui kedua suami istri yang saling mencintai itu dan mendo'akan agar keduanya mendapatkan berkah. Kemudian dia melepas kalungnya dan menggantungkannya ke leher Zainab sebagai hadiah bagi pengantin. Perkawinan itu berlangsung sebelum turun wahyu kepada ayahnya, Nabi Muhammad SAW. Ketika cahaya Tuhannya menerangi bumi, Zainab pun beriman. Akan tetapi Abil Ash tidak mudah meninggalkan agamanya. Maka kedua suami istri itu merasa bahwa kekuatan yang lebih kuat dari cinta mereka berusaha memisahkan keduanya.
Abil Ash tetap membangkang dan berkata : "Tidak akan tercapai tujuan diantara kita wahai Zainab, kecuali engkau tetap dalam agamamu dan aku tetap dalam agamaku." Adapun Zainab, maka dia berkata :"Sabarlah, wahai suamiku. engkau tidak halal bagiku selama engkau tetap memeluk agama itu. Maka serahkan aku kepada ayahku atau masuklah Islam bersamaku. Zainab tidak akan menjadi milikmu sejak hari ini, kecuali bila engkau beriman pada agama yang aku imani. Pasangan suami isteri itu terdiam sebentar sambil merenung. Keduanya sadar ketika terdengar suara yang membisikkan kepada keduanya :"Jika agama memisahkan antara kedua jasad mereka, maka cinta mereka akan tetap ada hingga keduanya dipersatukan oleh sebuah agama."
Hari-hari
berlalu dalam keadaan ini setelah Rasulullah SAW hijrah ke Madinah. Pasukan
Quraisy berangkat menuju Badr untuk memerangi Rasul SAW dan di antara mereka
terdapat Abil Ash bin Rabi' bukan untuk menyatakan ke-Islamannya, tetapi untuk
memerangi Rasul SAW. Situasi menjadi kritis ketika Abil Ash jatuh menjadi
tawanan di tangan kaum Muslimin di bawah pimpinan Rasulullah SAW di Madinah. Kemudian
kaum Quraisy mengutus orang untuk menebus tawanan-tawanannya. Zainab pun
mengirimkan harta dan sebuah kalung untuk menebus tawanannya, Abil Ash bin
Rabi'. Ketika Rasulullah SAW melihat kalung itu, beliau merasa iba hatinya dan
bersabda :"Jika kalian tidak keberatan melepaskan tawanan dan
mengembalikan harta miliknya, maka lakukanlah."Mereka menjawab
:"Baiklah, wahai Rasulullah." Kemudian mereka melepaskannya dan
mengembalikan harta milik Zainab. Di sini Rasulullah SAW mendapat janji dari
Abil Ash untuk membebaskan Zainab dan mengembalikannya kepada beliau di
Madinah.
Abil
Ash kembali ke Mekkah dan di dalam jiwanya terdapat gambaran yang lebih
cemerlang dari isteri yang berbakti dan mulia ini.Maka dia kembali bukan untuk
berterima kasih atas kebaikan Zainab kepadanya, akan tetapi untuk berkata keapdanya
:"Kembalilah kepada ayahmu, wahai Zainab." Dia telah memenuhi janjinya
kepada Rasulullah SAW untuk membiarkan Zainab pergi kepada Nabi SAW. Abil Ash
tidak kuasa menahan tangisnya dan tidak dapat mengantarkannya ke tepi dusun
diluar Mekkah, di mana telah menunggu Zaid bin Haritsah dan seorang laki-laki
Anshor.
Bagaimana dia mampu melepaskan orang yang
dicintainya, sedang dia mengetahui bahwa, itu merupakan perpisahan terakhir
selama kekuasaan agama ini berdiri di antara kedua hati dan masing-masing berpegang
pada agamanya. Abil Ash berkata kepada saudaranya, Kinanah bin Rabi'
:"Hai, Saudaraku, tentulah engkau mengetahui kedudukannya dalam jiwaku.
Aku tidak menginginkan seorang wanita Quraisy di sampingnya dan engkau tentu
tahu bahwa aku tidak sanggup meninggalkannya. Maka temanilah dia menuju tepi
dusun, di mana telah menungggu dua utusan Muhammad. Perlakukanlah dia dengan
lemah lembut dalam perjalanan dan perhatikanlah dia sebagaimana engkau memperhatikan
wanita-wanita terpelihara. Lindungilah dia dengan panahmu hingga anak panah
yang penghabisan."
Di
saat Zainab sedang bersiap-siap untuk menyusul ayahnya, datanglah Hind binti
Utbah, menemuinya, dan dia berkata :"Wahai, puteri Muhammad, aku mendengar
bahwa engkau akan menyusul ayahmu !" Zainab menjawab :"Aku tidak
ingin melakukannya." Hind berkata :"Wahai puteri pamanku, jangan
engkau lakukan. Jika engkau mempunyai keperluan akan suatu barang yang menjadi
bekal dalam perjalananmu atau harta yang hendak engkau sampaikan kepada ayahmu,
maka aku akan memenuhi keperluanmu. Maka janganlah engkau segan kepadaku,
karena sesuatu yang masuk di antara orang-orang lelaki tidaklah masuk di antara
orang-orang wanita." Zainab berkata : "Demi Allah, aku tidak
melihatnya mengatakan hal itu, kecuali untuk melakukannya, tetapi aku takut kepadanya.
Maka aku menyangkal bahwa aku akan pergi dan aku pun bersiap-siap."
Setelah menyelesaikan persiapannya, iparnya, Kinanah bin Rabi' menyerahkan
kepada Zainab seekor unta, lalu dinaikinya. Kinanah mengambil busur dan anak
panahnya. Kemudian dia keluar membawa Zainab di waktu siang dan Zainab duduk di
dalam pelangkinnya, sementara Kinanah menuntun untanya. Akan tetapi, apakah
Quraisy membiarkannya keluar setelah mereka mengalami kekalahan di Badr.
Bagaimana dia boleh keluar sementara orang-orang melihat dan mendengarnya ?
Tidak...sekali lagi tidak ! Banyak orang laki-laki Quraisy telah membicarakan hal itu. Maka keluarlah
mereka untuk mencarinya hingga mereka berhasil menyusul di Dzi Thuwa. Yang
pertama kali menemukannya adalah Habbar bin Aswad bin Muththalib dan Nafi' bin
Abdul Qais. Habbar menakutinya dengan tombak. Di saat itu Zainab berada di dalam
pelangkinnya dan dia sedang dalam keadaan hamil. Ketika pulang, dia mengalami
keguguran kandungannya.
Iparnya marah dan berkata kepada para penyerang :"Demi Allah, tidak
seorang pun yang mendekat kepadaku, melainkan aku akan memanahnya." Maka
orang-orang bubar meninggalkannya. Abu Sufyan bersama rombongan Quraisy datang
kepadanya dan berkata :"Hai, orang laki-laki,tahanlah panahmu hingga aku
berbicara kepadamu." Maka Kinanah menahan panahnya. Abu Sufyan datang
menghampirinya dan berkata :"Tindakanmu tidak tepat. Engkau keluar membawa
wanita secara terang-terangan dihadapan orang banyak. Sesungguhnya hal itu
menunjukkan kehinaan yang menimpa kita akibat musibah dan bencana yang telah
kita alami sebelumnya. Sesungguhnya hal itu menunjukkan kelemahan kita. Demi
umurku, kami tidak perlu mencegahnya untuk pergi kepada ayahnya. Kami tidak ingin
membalas dendam, tetapi kembalikan wanita itu."
Tatkala suara sudah reda, Kinanah membawa Zainab pada waktu malam, lalu
menyerahkannya kepada Zaid bin Haritsah dan temannya. Keduanya pergi
mengantarkan Zainab kepada Rasulullah SAW. Suami isteri jadi berpisah. Tidak
ada jalan untuk bertemu. Abil Ash tinggal di Makkah menyendiri dengan pikiran
kacau dan hati terluka. Zainab pun tinggal di Madinah dengan badan yang sakit
dan hati yang lemah. Kalau saja bukan karena iman dan takwa yang menguatkan
tekadnya, tentu dia lekas mati dan tidak dapat bertemu.
Tahun
demi tahun berlalu, Abil Ash keluar bersama kafilah dagangnya menuju Syam.
Dalam perjalanan pulang dia berjumpa pasukan Rasulullah SAW yang berhasil
merampas hartanya, akan tetapi dia bisa lolos. Dia telah kehilangan hartanya
dan harta titipan orang banyak. Abil Ash tidak dapat mengembalikan
barang-barang titipan itu kepada para pemiliknya. Maka apa yang harus
dilakukannya ?
Dia
teringat Zainab yang memberinya imbalan berupa cinta dan kesetiaan. Maka Abil
Ash memasuki Madinah pada waktu malam dan mohon kepada Zainab agar melindungi
dan membantunya untuk mengembalikan hartanya. Maka Zainab pun melindunginya.
Orang-orang berlari ke masjid Rasulullah SAW, bertakbir bersama kaum Muslimin.
Tiba-tiba terdengar suara teriakan di belakang dinding :"Hai, orang-orang,
aku telah melindungi Abil Ash bin Rabi'. Dia dalam lindungan dan
jaminanku." Ternyata, Zainablah yang berseru itu.
Rasulullah SAW menyelesaikan shalatnya, lalu beliau menemui orang banyak
dan bersabda :"Wahai, orang-orang, apakah kalian mendengar apa yang aku
dengar ? Sesungguhnya serendah-rendah orang Muslim adalah dapat memberi
perlindungan." Kemudian beliau masuk menemui puterinya dan berbicara
kepadanya, Nabi SAW berpesan :"Wahai, puteriku, muliakanlah tempatnya dan
jangan sampai dia lolos kepadamu, karena engkau tidak halal baginya selama dia
masih musyrik." Nabi SAW terkesan melihat kesetiaan puterinya kepada
suaminya yang ditinggalkan dan dia putuskan hubungan syahwat dengannya karena
perintah Allah SWT.
Di
samping itu, Zainab pun masih tetap memberinya kebaktian, kesetiaan dan
pertolongan : yaitu kebaktian sebagai wanita muslim, kesetiaan sebagai teman
dan pertolongan sebagai manusia. Abil Ash mendapatkan dari Nabi SAW apa yang
didengar dan diketahuinya, sehingga dia menyembunyikan dalam hatinya harapan
kepada Allah. Kemudian, Nabi SAW mengutus orang kepada pasukan yang merampas
harta Abil Ash. Beliau berkata :"Sesungguhnya kalian telah mengetahui
kedudukan orang ini terhadap kami. Kalian telah merampas hartanya. Jika kalian
berbuat baik kepadanya dan mengembalikan hartanya, maka kami menyukai hal itu.
Jika kalian menolak, maka itu adalah fai' dari Allah yang diberikan-Nya kepada
kalian dan kalian lebih berhak atasnya."
Mereka
berkata :"Kami akan mengembalikannya kepada Abil Ash."
Beberapa orang di antara mereka berkata :"Hai,
Abil Ash, maukah engkau masuk Islam dan mengambil harta benda ini, karena semua
ini milik orang-orang musyrik ?" Abil Ash menjawab :"Sungguh buruk
awal Islamku, jika aku mengkhianati amanatku."
Maka
mereka mengembalikan harta itu kepadanya demi kemuliaan Rasulullah SAW dan
sebagai penghormatan kepada Zainab. Laki-laki itu pun kembali ke Mekkah dengan
membawa hartanya dan harta orang banyak.Jiwanya dipenuhi berbagai makna dan di
antara kedua matanya terlihat gambaran yang tidak meninggalkannya.
Setelah mengembalikan harta kepada pemiliknya masing-masing,Abil Ash
berdiri dan berkata :"Wahai, kaum Quraisy, apakah masih ada harta
seseorang di antara kalian padaku ?" Mereka menjawab :"Tidak. Semoga
Allah membalasmu dengan kebaikan. Kami telah mendapati kamu seorang yang jujur
dan mulia." Abil Ash berkata :"Aku bersaks. Demi Allah, tiada yang
menghalangi aku masuk Islam di hadapannya, kecuali karena aki bahwa tiada Tuhan selain Allah dan bahwa Muhammad adalah hamba dan Rasul-Nyau khawatir mereka
menyangka aku ingin makan harta kalian. Setelah Allah menyampaikannya kepada kalian
dan aku selesai membagikannya, maka aku masuk Islam."
Asy-Sya'bi berkata :"Zainab masuk Islam dan hijrah, kemudian Abil
Ash masuk Islam sesudah itu, dan Islam tidak memisahkan antara keduanya."
[Adz-Dzahabi, "Siyar A'laamin Nubala'. Demikian pula kata Qatadah : Dia
berkata :"Kemudian diturunkan surah Baro'ah sesudah itu. Maka, jika ada
seorang wanita masuk Islam sebelum suaminya, dia hanya boleh mengawininya
dengan nikah baru."]
Abil
Ash keluar dari Mekkah, hijrah menuju Madinah dengan mendapat petunjuk iman dan
keyakinan. Suami isteri yang saling mencintai bertemu untuk kedua kalinya
setelah lama berpisah. Akan tetapi isteri yang setia itu telah menunaikan
kewajiban dan menyelesaikan urusan dunianya ketika menyadarkan laki-laki yang
dicintainya serta memenuhi hak suaminya sesuai dengan kadar cintanya kepada
suami. Tidak lama setelah pertemuan itu, Zainab meninggal dunia.
Zainab
meninggal dunia pada tahun 8 Hijriah dan Rasulullah SAW sangat sedih atas
kepergiannya. Zainab meninggal dunia setelah meninggalkan kenangan terbaik. Dia
telah menjadi contoh terbaik dalam hal kesetiaan isteri, keikhlasan cinta dan
kebenaran iman. Tidaklah mengherankan apabila suaminya berkata dalam suatu
perjalanannya ke Syam :"Puteri Al-Amiin, semoga Allah membalasnya dengan
kebaikan dan setiap suami akan memuji sesuai dengan yang diketahuinya."
Begitulah kehidupan seorang muslimah sejati, sebagai seorang anak, istri, dan ibu yang senantiasa patut diteladani. Seorang wanita sederhana dan bersahaja, tak pernah lena karena kedudukan ayahnya yang mulia. Wanita yang tak pernah menyerah dan berputus asa, di dalam jiwanya terdapat kebesaran dan keagungan yang mengalir dari ayahnya Muhammad SAW.
Referensi :
www.KisahMuslim.com
Zainab binti Muhammad Rasulullah*Oleh A. Fatih Syuhud
Begitulah kehidupan seorang muslimah sejati, sebagai seorang anak, istri, dan ibu yang senantiasa patut diteladani. Seorang wanita sederhana dan bersahaja, tak pernah lena karena kedudukan ayahnya yang mulia. Wanita yang tak pernah menyerah dan berputus asa, di dalam jiwanya terdapat kebesaran dan keagungan yang mengalir dari ayahnya Muhammad SAW.
Referensi :
www.KisahMuslim.com
Zainab binti Muhammad Rasulullah*Oleh A. Fatih Syuhud